<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: Lagu_Indonesia</title>
	<atom:link href="http://jsop.net/lagu_indonesia/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://jsop.net</link>
	<description>Gerakan Kepatutan</description>
	<lastBuildDate>Tue, 13 Dec 2011 01:51:10 +0000</lastBuildDate>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=</generator>
	<item>
		<title>By: jsop</title>
		<link>http://jsop.net/lagu_indonesia/#comment-2923</link>
		<dc:creator>jsop</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 09 Sep 2008 18:09:06 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://jsop.net/lagu_indonesia/#comment-2923</guid>
		<description>&lt;img src=&quot;http://tbn0.google.com/images?q=tbn:Urj2sJSGQj5zsM:&quot; alt=&quot;mimpi&quot; /&gt;
&lt;strong&gt;Mimpi dan Ngigau&lt;/strong&gt;

Tulisan ini adalah opini saya secara pribadi untuk menanggapi perkembangan dunia musik dan lagu-lagu popular Indonesia . Sudah pernah saya tulis sebelumnya bahwa musik memiliki dua peran atau fungsi bagi para pendengarnya . Namun disini saya akan membicarakan secara ‘menyeluruh’ saja .

Secara garis besar keprihatinan saya terhadap perkembangan dunia musik Indonesia adalah terkait dengan masalah ‘tema’ yang disuarakan , itu pada intinya . Musik popular di Indonesia saat ini ‘miskin’ dengan gagasan-gagasan cerdas dari para komposernya . Ada beberapa hal sebagai faktor penyebab yang bisa saya uraikan secara singkat dibawah ini .

Seorang composer atau disebut pencipta lagu pada hakekatnya adalah orang-orang yang bekerja ,  beranjak dari daya imaginasi yang mereka miliki . Kemampuan mengelola daya imaginasi yang tidak dimiliki oleh orang-orang kebanyakan lainnya yang berprofesi dengan menggunakan “logika” atau sesuatu yang nyata / konkrit atau juga disebut eksak .

Jadi pada intinya kaum pencipta lagu atau composer bisa juga disebut sebagai kaum ‘peng-khayal” . Orang tidak akan mampu mengembangkan khayalannya apabila daya sensitivitas-nya tumpul tak ter-asah dengan baik bahkan tidak peka . Sekaligus menjadi pertanyaan yang harus dijawab oleh “tugas profesi” itu sendiri , bagaimanakah meletakkan sensitivitas bagi terciptanya imaginasi dan khayalan agar bermanfaat / berguna dan juga “ber-martabat” .

Seorang pengkhayal yang baik , akan menggunakan daya sensitivitasnya untuk menyerap persoalan-persoalan yang terjadi di lingkungan dan kehidupannya sendiri . Sebaliknya seorang pengkhayal yang “pas-pas-an” akan memaksa-maksakan imaginasi (mengarang-ngarang cerita) agar mampu melahirkan suasana baru yang tampak dan sekedar terdengar ‘provokatif’ guna menarik perhatian masyarakat pendengarnya .

Hasil karya dari sebuah perenungan yang mendalam terhadap lingkungan (kontemplatif) , akan memiliki kekuatan hingga menyentuh bathin , karya tersebut mampu menciptakan komunikasi dan menjalin relasi dengan bathin-bathin orang-orang lain yang mendengarnya . Karya tersebut akan me-nafkahi kalbu dan memberikan kontribusi bagi pencerahan jiwa dan kehidupan manusia yang lainnya . 

Sebaliknya karya musik dan lagu yang diciptakan sekedar provokatif / heboh / dan “sensasional” hanya akan menyentuh raga yang hanya akan menyulut  adrenalin otot untuk bergerak atau ber-goyang sesaat saja . Sementara otak di isi kepala tidak mendapatkan manfaatnya apa-apa .

Ketika system Industri berkembang sedemikian pesatnya di Indonesia , tanpa dibarengi dengan berkembangnya “kesadaran” menggali tema oleh generasi-generasi baru komposer-nya. Lagu dalam bingkai musik hanya dipahami sekedar “bunyi-bunyian” yang secara teoritis diajarkan dibangku pendidikan , padahal pendidikan / sekolah musik hanya mengajarkan bagaimana caranya agar fasih memainkan alat / instrument musik itu sendiri . Persoalan “muatan” hanya ada dan hanya bisa dipelajari di “kehidupan yang real” itu sendiri .

“Tren” atau mode yang asal semakin “mirip” dengan musik dan lagu orang lain menjadi kebanggaan . Design bunyi-bunyian asal modern berperan sangat dominant dan menjadi segala-galanya . Persoalan tema dikesampingkan dan menjadi urutan terakhir bagi sebuah kebutuhan ber-ekspresi . Musik pop Indonesia saat ini hanya berfungsi menampilkan “gaya” , kulit luar tanpa isi yang memadai .

Maka , ketika gaya serta tampilan menjadi “sandaran utama” , musik Indonesiapun tersekap menjadi epigon ”tampilan dan gaya” , mencontoh habis-habisan paradigma bermusik dan lagu yang sudah ada .

Tidak lagi dihargai berbagai upaya dari kelompok-kelompok komposer yang ingin menampilkan jati dirinya sebagai orang Indonesia dengan persoalan yang ada di Indonesia . Mereka semua semakin di-marginalkan dengan sebutan orang-orang yang “sok idealis” dan sebagainya .
Musik Indonesia mirip dengan dunia sinetron dilayar kaca televisi Indonesia , megah mewah dan glamour.. namun hanya “seolah-olah” . Sebab apa yang terlihat dan terdengar tak bermakna apa-apa dengan persoalan “real” di-kehidupannya yang nyata . 

Mirip dengan mimpikah..? ya.., nyatanya memang hanya mimpi yang menjadi tujuan bermusik di Indonesia. Dan sepertinya orang bermusik Indonesia saat ini memang gemar memuja-muja mimpi .

Mimpi memang dibutuhkan ..., tapi bukan ngigau atau ngelindur .

&lt;a href=&quot;http://jsop.net/?p=971&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;&lt;strong&gt;[&gt;&gt;&gt;COMMENT HERE&lt; &lt;&lt;]&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://tbn0.google.com/images?q=tbn:Urj2sJSGQj5zsM:" alt="mimpi" /><br />
<strong>Mimpi dan Ngigau</strong></p>
<p>Tulisan ini adalah opini saya secara pribadi untuk menanggapi perkembangan dunia musik dan lagu-lagu popular Indonesia . Sudah pernah saya tulis sebelumnya bahwa musik memiliki dua peran atau fungsi bagi para pendengarnya . Namun disini saya akan membicarakan secara ‘menyeluruh’ saja .</p>
<p>Secara garis besar keprihatinan saya terhadap perkembangan dunia musik Indonesia adalah terkait dengan masalah ‘tema’ yang disuarakan , itu pada intinya . Musik popular di Indonesia saat ini ‘miskin’ dengan gagasan-gagasan cerdas dari para komposernya . Ada beberapa hal sebagai faktor penyebab yang bisa saya uraikan secara singkat dibawah ini .</p>
<p>Seorang composer atau disebut pencipta lagu pada hakekatnya adalah orang-orang yang bekerja ,  beranjak dari daya imaginasi yang mereka miliki . Kemampuan mengelola daya imaginasi yang tidak dimiliki oleh orang-orang kebanyakan lainnya yang berprofesi dengan menggunakan “logika” atau sesuatu yang nyata / konkrit atau juga disebut eksak .</p>
<p>Jadi pada intinya kaum pencipta lagu atau composer bisa juga disebut sebagai kaum ‘peng-khayal” . Orang tidak akan mampu mengembangkan khayalannya apabila daya sensitivitas-nya tumpul tak ter-asah dengan baik bahkan tidak peka . Sekaligus menjadi pertanyaan yang harus dijawab oleh “tugas profesi” itu sendiri , bagaimanakah meletakkan sensitivitas bagi terciptanya imaginasi dan khayalan agar bermanfaat / berguna dan juga “ber-martabat” .</p>
<p>Seorang pengkhayal yang baik , akan menggunakan daya sensitivitasnya untuk menyerap persoalan-persoalan yang terjadi di lingkungan dan kehidupannya sendiri . Sebaliknya seorang pengkhayal yang “pas-pas-an” akan memaksa-maksakan imaginasi (mengarang-ngarang cerita) agar mampu melahirkan suasana baru yang tampak dan sekedar terdengar ‘provokatif’ guna menarik perhatian masyarakat pendengarnya .</p>
<p>Hasil karya dari sebuah perenungan yang mendalam terhadap lingkungan (kontemplatif) , akan memiliki kekuatan hingga menyentuh bathin , karya tersebut mampu menciptakan komunikasi dan menjalin relasi dengan bathin-bathin orang-orang lain yang mendengarnya . Karya tersebut akan me-nafkahi kalbu dan memberikan kontribusi bagi pencerahan jiwa dan kehidupan manusia yang lainnya . </p>
<p>Sebaliknya karya musik dan lagu yang diciptakan sekedar provokatif / heboh / dan “sensasional” hanya akan menyentuh raga yang hanya akan menyulut  adrenalin otot untuk bergerak atau ber-goyang sesaat saja . Sementara otak di isi kepala tidak mendapatkan manfaatnya apa-apa .</p>
<p>Ketika system Industri berkembang sedemikian pesatnya di Indonesia , tanpa dibarengi dengan berkembangnya “kesadaran” menggali tema oleh generasi-generasi baru komposer-nya. Lagu dalam bingkai musik hanya dipahami sekedar “bunyi-bunyian” yang secara teoritis diajarkan dibangku pendidikan , padahal pendidikan / sekolah musik hanya mengajarkan bagaimana caranya agar fasih memainkan alat / instrument musik itu sendiri . Persoalan “muatan” hanya ada dan hanya bisa dipelajari di “kehidupan yang real” itu sendiri .</p>
<p>“Tren” atau mode yang asal semakin “mirip” dengan musik dan lagu orang lain menjadi kebanggaan . Design bunyi-bunyian asal modern berperan sangat dominant dan menjadi segala-galanya . Persoalan tema dikesampingkan dan menjadi urutan terakhir bagi sebuah kebutuhan ber-ekspresi . Musik pop Indonesia saat ini hanya berfungsi menampilkan “gaya” , kulit luar tanpa isi yang memadai .</p>
<p>Maka , ketika gaya serta tampilan menjadi “sandaran utama” , musik Indonesiapun tersekap menjadi epigon ”tampilan dan gaya” , mencontoh habis-habisan paradigma bermusik dan lagu yang sudah ada .</p>
<p>Tidak lagi dihargai berbagai upaya dari kelompok-kelompok komposer yang ingin menampilkan jati dirinya sebagai orang Indonesia dengan persoalan yang ada di Indonesia . Mereka semua semakin di-marginalkan dengan sebutan orang-orang yang “sok idealis” dan sebagainya .<br />
Musik Indonesia mirip dengan dunia sinetron dilayar kaca televisi Indonesia , megah mewah dan glamour.. namun hanya “seolah-olah” . Sebab apa yang terlihat dan terdengar tak bermakna apa-apa dengan persoalan “real” di-kehidupannya yang nyata . </p>
<p>Mirip dengan mimpikah..? ya.., nyatanya memang hanya mimpi yang menjadi tujuan bermusik di Indonesia. Dan sepertinya orang bermusik Indonesia saat ini memang gemar memuja-muja mimpi .</p>
<p>Mimpi memang dibutuhkan &#8230;, tapi bukan ngigau atau ngelindur .</p>
<p><a href="http://jsop.net/?p=971" rel="nofollow"><strong>[>>>COMMENT HERE< <<]</strong></strong></a></p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: jsop</title>
		<link>http://jsop.net/lagu_indonesia/#comment-2625</link>
		<dc:creator>jsop</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 08 Jul 2008 12:16:10 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://jsop.net/lagu_indonesia/#comment-2625</guid>
		<description>KANTATA TAKWA [bag.ll]

Semenjak itu saya kerap kali ditelpon mas Djody untuk membicarakan berbagai hal tentang perkembangan musik di Indonesia. Saya katakan bahwa pada intinya musisi ’alternatif’ (non industri) di Indonesia ini membutuhkan &quot;uluran tangan&quot; dari berbagai pihak yang ”peduli” , yang bukan hanya mikirin rumus dagang saja tapi juga mikir tentang &quot;berkesenian&quot; dalam artian yang lebih luas lagi.

Saya melihat ada ”concern” dari dia untuk mau berdialog dengan saya panjang lebar tentang hal tersebut . Maka ketika suatu kali dia menceritakan gagasannya yang ingin bekerja sama dengan AIRO (saat itu perusahaan tersebut masih menjadi milik Sofyan Ali) secara spontan saya langsung mendukungnya .

Dan pada saat itu hubungan kerjasama antara Sofyan Ali dengan Iwan Fals memang sudah berjalan (lewat berbagai konser Iwan sendiri saat2 itu) . Maka ketika konser 100 kota yang akan dimulai di Sumatra (Palembang) tersebut di cekal , Sofyan Ali berkeinginan untuk mengajak Iwan masuk studio guna rekaman.

Rekaman Iwan Fals tersebut akhirnya berlangsung dibawah management AIRO yang bekerjasama dengan SD. Dan seingat saya sebelum masuk ke studio , SD pernah pergi berdua Iwan ke Bali , dimana mereka pada akhirnya berhasil menciptakan lagu ”Mata Dewa” . SD sendiri mengatakan bahwa Mata Dewa adalah ”Sun set” yang mereka lihat ketika mereka gitaran berdua di pantai Kuta.

Maka berikutnya , ketika Iwan Fals sedang sibuk merekam Mata Dewa , saya sendiri mulai sering mengawal SD untuk bermain musik , baik itu dirumahnya atau terkadang beberapa kali ikut konser bersama di panggung2 musik di Ancol . Formasinya waktu itu antara lain Jelly Tobing dsb. Kami hanya memainkan repertoar2 bule , umumnya lagu2 dari Led Zepllin dan U2 ada satu atau dua sih..lagunya Van Hallen. Maklum kelompok tersebut memang bukan band serius..tapi hanya sekedar ”gathering” atau kelompok gaul dan per-temanan saja .

Jujur saja , lama-lama saya merasa ”eman” atau sayang kalau melihat kemampuan ”finansial” yang dimiliki hanya untuk ”proyek” kesenangan pribadi saja . Maka secara bertahap perlahan tapi pasti , saya mulai ”meracuni” isi otak pikiran SD , agar mau membantu kondisi musik rock yang saat itu emang sudah mulai ”terkapar” tak berdaya.

Hanya ada satu orang di Indonesia kala itu yang secara spesifik berkutat di bisnis musik rock kita , yaitu Log Zelebour yang kebetulan juga mengelola management Godbless. Namun keberadaan Log Z. Lebih pada pendekatan bisnis pragmatis , sedangkan yang saya anggap diperlukan musisi rock Indonesia adalah figur sponsor yang berfungsi sebagai seorang ”maesenas”. (yang nggak berpikir harus untung melulu)

Maka berikutnya , ketika Iwan Fals merilis album Mata Dewa dengan konsep (terobosan) ”direct sale” di parkir timur senayan . Sekali lagi saya meyakinkan SD agar melihat peluang kesempatan yang bisa dilakukan demi perkembangan musik rock di tanah air. Konsep terobosan diatas yang saya maksud adalah : kaset Mata Dewa tidak dijual oleh Sofyan Ali (AIRO) melalui agen2 yang sudah ada (resmi) namun langsung di-pajang di mobil2 box saat konser di Parkir Timur Senayan. Konsep tersebut terbukti ampuh serta membuka mata banyak orang , bahwa dominasi &quot;glodog&quot; bisa dipatahkan asalkan ada sebuah sistem distribusi yang direncanakan secara matang.

Beberapa bulan kemudian setelah kaset tersebut terbilang ”sukses” , maka Setiawan Djody mengundang kita semua (saya , Iwan Fals dan WS.Rendra serta Sawung Jabo) guna ngobrol membicarakan segala kemungkinan kesepakatan yang bisa dicapai. Perkenalan antara WS.Rendra (mas Willy) dengan SD sudah terjalin semenjak lama sebelum saya sendiri hadir disana .SD selama itu memang bertindak sebagai maesenas bagi kebutuhan “Bengkel Teater” Rendra , bahkan sudah sempat mengadakan pementasan di New York dan beberapa kota di luar negeri dan sebagainya. Sedangkan Sawung Jabo sendiri adalah salah satu anggota dari Bengkel Teater tersebut.

Singkat kata , kami hampir menemukan kesepakatan untuk saling bekerja-sama , namun harus melewati satu masalah lagi , atau anggap saja satu persyaratan yang harus diselesaikan terlebih dahulu . Yaitu , Iwan Fals bersama S.Jabo dan kawan-kawan yang lain ternyata sedang membuat lagu-lagu , dan sedang merencanakan untuk bisa direkam di studio dan sebagainya . Persyaratan tersebut meminta agar SD juga bersedia menangani masalah management recording bagi mereka . Agar saat nanti , bila kita bisa bekerja sama maka “master” dari produk rekaman tersebut tidak kemana-mana , alias dikelola oleh satu management saja.

SD menyetujui persyaratan tersebut , dan bersedia bersama-sama Sofyan Ali untuk mengelola dibawah bendera / label AIRO . Disanalah awal mula gagasan besar tersebut beranjak . Saya pribadi sebenarnya juga tertarik untuk terlibat dalam rekaman yang akan mereka lakukan tersebut , namun saat itu saya lebih berfikir ”taktis” agar lebih berkonsentrasi ”mengawal” SD agar tidak berubah pikiran ..hehehe..., maklum ”roang tajir” kadang-kadang suse’ dipegang buntutnya. Saya sering menemani dia untuk workshop dirumahnya , sekaligus memberi masukan2 dan yang terpenting adalah melengkapi peralatan musik yang nanti dibutuhkan .

Singkat cerita , beberapa bulan kemudian rampunglah rekaman Iwan dan teman-teman tersebut (di GIN studio) , lalu program jangka pendek berikutnya adalah ”launching” serta dilanjutkan dengan konser (promo) .
Sayang , entah mengapa tiba-tiba saya mendapat berita bahwa Sofyan Ali mengundurkan diri dari kelompok kerja tersebut . Dan menyerahkan AIRO untuk dikelola sendiri oleh management SD , yang saat itu bernama Multy Setdco. Saya sempat kecewa dengan hal tersebut....sebab dimata saya belum ada orang Indonesia saat itu yang mampu mengelola bisnis pertunjukan musik dengan baik,sekaliber Sofyan Ali.

Bertempat disebuah cafe diwilayah Kuningan tepatnya di Gedung milik Wisma Bakrie , maka launching album bertajuk SWAMI diluncurkan disana . Saya sendiri turut terlibat untuk ikut main secara live pada acara peluncuran album tersebut , padahal sewaktu proses rekamannya saya tidak terlibat. Kami (SWAMI) kemudian sempat pula konser di GOR Kridosono Jogyakarta sebelum pada akhirnya saya , Iwan , Jabo , Rendra berkumpul lagi untuk melanjutkan pembicaraan guna merealisasikan ”kesepakatan awal”tentang kolaborasi bersama-sama .

Hari-hari itu ...adalah hari-hari dimana Bento dan Bongkar &quot;menggelegar&quot; bagaikan hendak memecah angkasa Indonesia.

(bersambung menyusul ke bag.lll)

&lt;a href=&quot;http://jsop.net/2008/07/kantata-takwa/&quot;  rel=&quot;nofollow&quot;&gt;&lt;strong&gt;[&gt;&gt;&gt;COMMENT HERE&lt; &lt;&lt;]&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>KANTATA TAKWA [bag.ll]</p>
<p>Semenjak itu saya kerap kali ditelpon mas Djody untuk membicarakan berbagai hal tentang perkembangan musik di Indonesia. Saya katakan bahwa pada intinya musisi ’alternatif’ (non industri) di Indonesia ini membutuhkan &#8220;uluran tangan&#8221; dari berbagai pihak yang ”peduli” , yang bukan hanya mikirin rumus dagang saja tapi juga mikir tentang &#8220;berkesenian&#8221; dalam artian yang lebih luas lagi.</p>
<p>Saya melihat ada ”concern” dari dia untuk mau berdialog dengan saya panjang lebar tentang hal tersebut . Maka ketika suatu kali dia menceritakan gagasannya yang ingin bekerja sama dengan AIRO (saat itu perusahaan tersebut masih menjadi milik Sofyan Ali) secara spontan saya langsung mendukungnya .</p>
<p>Dan pada saat itu hubungan kerjasama antara Sofyan Ali dengan Iwan Fals memang sudah berjalan (lewat berbagai konser Iwan sendiri saat2 itu) . Maka ketika konser 100 kota yang akan dimulai di Sumatra (Palembang) tersebut di cekal , Sofyan Ali berkeinginan untuk mengajak Iwan masuk studio guna rekaman.</p>
<p>Rekaman Iwan Fals tersebut akhirnya berlangsung dibawah management AIRO yang bekerjasama dengan SD. Dan seingat saya sebelum masuk ke studio , SD pernah pergi berdua Iwan ke Bali , dimana mereka pada akhirnya berhasil menciptakan lagu ”Mata Dewa” . SD sendiri mengatakan bahwa Mata Dewa adalah ”Sun set” yang mereka lihat ketika mereka gitaran berdua di pantai Kuta.</p>
<p>Maka berikutnya , ketika Iwan Fals sedang sibuk merekam Mata Dewa , saya sendiri mulai sering mengawal SD untuk bermain musik , baik itu dirumahnya atau terkadang beberapa kali ikut konser bersama di panggung2 musik di Ancol . Formasinya waktu itu antara lain Jelly Tobing dsb. Kami hanya memainkan repertoar2 bule , umumnya lagu2 dari Led Zepllin dan U2 ada satu atau dua sih..lagunya Van Hallen. Maklum kelompok tersebut memang bukan band serius..tapi hanya sekedar ”gathering” atau kelompok gaul dan per-temanan saja .</p>
<p>Jujur saja , lama-lama saya merasa ”eman” atau sayang kalau melihat kemampuan ”finansial” yang dimiliki hanya untuk ”proyek” kesenangan pribadi saja . Maka secara bertahap perlahan tapi pasti , saya mulai ”meracuni” isi otak pikiran SD , agar mau membantu kondisi musik rock yang saat itu emang sudah mulai ”terkapar” tak berdaya.</p>
<p>Hanya ada satu orang di Indonesia kala itu yang secara spesifik berkutat di bisnis musik rock kita , yaitu Log Zelebour yang kebetulan juga mengelola management Godbless. Namun keberadaan Log Z. Lebih pada pendekatan bisnis pragmatis , sedangkan yang saya anggap diperlukan musisi rock Indonesia adalah figur sponsor yang berfungsi sebagai seorang ”maesenas”. (yang nggak berpikir harus untung melulu)</p>
<p>Maka berikutnya , ketika Iwan Fals merilis album Mata Dewa dengan konsep (terobosan) ”direct sale” di parkir timur senayan . Sekali lagi saya meyakinkan SD agar melihat peluang kesempatan yang bisa dilakukan demi perkembangan musik rock di tanah air. Konsep terobosan diatas yang saya maksud adalah : kaset Mata Dewa tidak dijual oleh Sofyan Ali (AIRO) melalui agen2 yang sudah ada (resmi) namun langsung di-pajang di mobil2 box saat konser di Parkir Timur Senayan. Konsep tersebut terbukti ampuh serta membuka mata banyak orang , bahwa dominasi &#8220;glodog&#8221; bisa dipatahkan asalkan ada sebuah sistem distribusi yang direncanakan secara matang.</p>
<p>Beberapa bulan kemudian setelah kaset tersebut terbilang ”sukses” , maka Setiawan Djody mengundang kita semua (saya , Iwan Fals dan WS.Rendra serta Sawung Jabo) guna ngobrol membicarakan segala kemungkinan kesepakatan yang bisa dicapai. Perkenalan antara WS.Rendra (mas Willy) dengan SD sudah terjalin semenjak lama sebelum saya sendiri hadir disana .SD selama itu memang bertindak sebagai maesenas bagi kebutuhan “Bengkel Teater” Rendra , bahkan sudah sempat mengadakan pementasan di New York dan beberapa kota di luar negeri dan sebagainya. Sedangkan Sawung Jabo sendiri adalah salah satu anggota dari Bengkel Teater tersebut.</p>
<p>Singkat kata , kami hampir menemukan kesepakatan untuk saling bekerja-sama , namun harus melewati satu masalah lagi , atau anggap saja satu persyaratan yang harus diselesaikan terlebih dahulu . Yaitu , Iwan Fals bersama S.Jabo dan kawan-kawan yang lain ternyata sedang membuat lagu-lagu , dan sedang merencanakan untuk bisa direkam di studio dan sebagainya . Persyaratan tersebut meminta agar SD juga bersedia menangani masalah management recording bagi mereka . Agar saat nanti , bila kita bisa bekerja sama maka “master” dari produk rekaman tersebut tidak kemana-mana , alias dikelola oleh satu management saja.</p>
<p>SD menyetujui persyaratan tersebut , dan bersedia bersama-sama Sofyan Ali untuk mengelola dibawah bendera / label AIRO . Disanalah awal mula gagasan besar tersebut beranjak . Saya pribadi sebenarnya juga tertarik untuk terlibat dalam rekaman yang akan mereka lakukan tersebut , namun saat itu saya lebih berfikir ”taktis” agar lebih berkonsentrasi ”mengawal” SD agar tidak berubah pikiran ..hehehe&#8230;, maklum ”roang tajir” kadang-kadang suse’ dipegang buntutnya. Saya sering menemani dia untuk workshop dirumahnya , sekaligus memberi masukan2 dan yang terpenting adalah melengkapi peralatan musik yang nanti dibutuhkan .</p>
<p>Singkat cerita , beberapa bulan kemudian rampunglah rekaman Iwan dan teman-teman tersebut (di GIN studio) , lalu program jangka pendek berikutnya adalah ”launching” serta dilanjutkan dengan konser (promo) .<br />
Sayang , entah mengapa tiba-tiba saya mendapat berita bahwa Sofyan Ali mengundurkan diri dari kelompok kerja tersebut . Dan menyerahkan AIRO untuk dikelola sendiri oleh management SD , yang saat itu bernama Multy Setdco. Saya sempat kecewa dengan hal tersebut&#8230;.sebab dimata saya belum ada orang Indonesia saat itu yang mampu mengelola bisnis pertunjukan musik dengan baik,sekaliber Sofyan Ali.</p>
<p>Bertempat disebuah cafe diwilayah Kuningan tepatnya di Gedung milik Wisma Bakrie , maka launching album bertajuk SWAMI diluncurkan disana . Saya sendiri turut terlibat untuk ikut main secara live pada acara peluncuran album tersebut , padahal sewaktu proses rekamannya saya tidak terlibat. Kami (SWAMI) kemudian sempat pula konser di GOR Kridosono Jogyakarta sebelum pada akhirnya saya , Iwan , Jabo , Rendra berkumpul lagi untuk melanjutkan pembicaraan guna merealisasikan ”kesepakatan awal”tentang kolaborasi bersama-sama .</p>
<p>Hari-hari itu &#8230;adalah hari-hari dimana Bento dan Bongkar &#8220;menggelegar&#8221; bagaikan hendak memecah angkasa Indonesia.</p>
<p>(bersambung menyusul ke bag.lll)</p>
<p><a href="http://jsop.net/2008/07/kantata-takwa/"  rel="nofollow"><strong>[>>>COMMENT HERE< <<]</strong></strong></a></p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>

<!-- Dynamic Page Served (once) in 0.509 seconds -->

