mbah surip

Saat itu , kamu duduk disampingku dibangku bussines class Garuda … semua orang nyinyir melihatmu yang berdandan ‘nyeleneh’ namun nyenyak terlentang dikursinya kaum ‘bangsawan ekonomi’.
Di Lobby hingga coffe shop sebuah hotel ber-bintang lima … semua orang ‘geli’ menatapmu , bahkan doorman dan security pun … tampak tajam sorot matanya mengawasimu … karena kau ‘aneh’ dan dianggap bukan artis ataupun orang terkenal .
Didalam kamar , akupun semalaman nggak bisa tidur meladeni dialogmu bicara tentang ‘tikus di got , anjing kudisan dijalan’ dlsb.
Pendingin ruangan kamar yang tiba2 kau matikan hingga aku kepanasan . jam 03.00 pagi , kutengok kearah samping tempat tidur…kamu menghilang dari pandangan … aku mencarimu … ternyata kau nyenyak terlentang di lantai yang keras … bukannya di atas kasur yang empuk.
Bunyi ‘krek..kreeekk..kreseekk..krekk’ sampai subuh pagi menjelang terang … yang ternyata itu suara kamu lagi sibuk di kamar mandi membetulkan toilet yang gagangnya macet karena kau engkol kekencangan .
Disebuah pesantren dan disebuah universitas … kamu disambut masyarakat dan rakyat kecil laksana sirkus yang memberikan hiburan ttg potret kepolosan dan ketulusan yg masih tersisa di negri ini
Sekembalinya lagi ke Jakarta …. kujumpai lagi kamu masih ‘dijalanan’ seperti biasanya … bernyanyi lugu menyanyikan lagu tentang kehidupan …. tanpa pretensi untuk berharap dipuji .
Disebuah rumah sakit dimana mas Willy dirawat , terakhir kamu menyapaku … halo Yock .. ha..haaa..haa..haa .. ,
Spontan kutepuk pundakmu dengan keras …. , Wueedaann kowee’ …sekarang jadi selebritis yaa.., lalu kau jawab : ha..haaa…hhaaa..haaaa.
Selamat jalan teman …. tak perlu kutangisi kepergianmu , ini hanya masalah siapa yang akan dipanggil pulang terlebih dahulu . Aku hanya ingin berucap terimakasih … atas ‘kejujuran dan kesederhanaan berpikir’ yang kau pertahankan di sepanjang hayatmu itu
- inalillahi wainailaihi roji’un ,
jsop

















“bernyanyi lugu menyanyikan lagu tentang kehidupan …. tanpa pretensi untuk berharap dipuji”
Betul, Mas Jockie! ini ada sebuah sikap yang sulit kita temukan, sekarang. Sebetulnya, harga popularitas itu murah, mudah mendapatkannya, tetapi untuk mempertahankannya dengan rendah hati, mahal harganya. Tulisannya menyentuh… Terima kasih, salam! Selamat jalan, mbah surip…
datang, mendobrak dan pergi…
pulang…
cara jenengan menulis memoar ini asyik, pak…jadi inget betapa piawainya jenengan menulis lirik lagu…
sebuah wujud bahwa kepolosan dan ketulusan masih bisa hidup di negeri kita,,
dan semoga saja orang2 yang selalu berpikiran bahwa di negeri ini sudah tak ada tempat buat kepolosan dan kejujuran bisa merenung sejenak sebelum berkata sebaliknya..
slamat jalan mbah surip,,
smoga tingkah nyelenehmu bisa jadi inspirasi buat kita smua untuk membangun indonesia,,
_kita gk pengen negeri kita super power,kita cuma pengen negeri kita gemah ripah loh jinawi_
belum selesai membaca ucapan selamat jalan-mu bagi mbah surip, tiba-tiba aku tersentak dengan berita yang mengharuskan aku mengucapkan selamat jalan pada mu
selamat jalan mas
semoga tuhan menempatkan mu ditempat yang paling mulya
amin