Naluri

Salah satu ilmu Allah , Tuhan Yang Maha Esa yang paling mulia diturunkan kepada segenap mahkluk hidup yang bernyawa didunia ini , sepertinya adalah apa yang bisa kita sebut sebagai Naluri . Baik itu terhadap kelompok hewan/binatang , tetumbuhan bahkan kepada kelompok mahkluk yang paling cerdas , manusia.

Naluri memberi perintah pada sel otak dan akal setiap kelompok ciptaannya , guna menggerakkan organ-organ fisiknya bekerja  memenuhi berbagai kebutuhan hidupnya masing-masing .

Rerumputan akan mencari ladang terbuka yang hangat disinari matahari agar tumbuh , hewan akan memilih ruang-ruang terbuka maupun tertutup yang sesuai bagi kelangsungan hidup bagi komunal dan jenisnya sendiri-sendiri .

Naluri akan mengajak kita segera makan dan minum , ketika  lapar maupun dahaga menghampiri kita . Begitulah pada hakekatnya naluri bekerja, menggerakkan insting setiap mahkluk untuk berbuat sesuatu sesuai kodratnya.

Bagaimana dengan “naluri” yang bukan hasil ciptaan Yang Maha Esa , atau bisa saya sebut disini sebagai “naluri” hasil rekayasa akal dan kecerdasan otak manusia ?

Dengan menggunakan berbagai istilah modernitas peradaban yang terus maju melangkah kedepan , “naluri” dengan katagori tersebut menjadi parasit yang menunggangi issue kesadaran manusia untuk bisa turut berperan sepanjang jaman dan peradaban manusia itu sendiri .

Tengoklah hasil karya “naluri” jenis tersebut , salah satunya adalah apa yang bisa disebut “keinginan” . “Naluri” jenis ini mampu membuat kita semua menjadi “disorientasi pikiran” , mana sebetulnya yang menjadi KEBUTUHAN dan mana sebenarnya yang hanya sekedar sebuah KEINGINAN yang sangat “relatif” fungsinya bagi keberlanjutan peradaban hidup manusia .

Ketika kekuasaan “naluri” tersebut tak bisa dibendung dengan berbagai dogma ke-iman-an dan akal sehat manusia , maka kita semua terjebak untuk tunduk patuh pada sebuah “kebutuhan” hasil karya “naluri”  yang tidak lagi beranjak dari Kebutuhan yang telah digariskan oleh Sang Penciptanya , Tuhan Yang Maha Esa.

Manusia terus berlanjut mengejar “keinginan-keinginan” yang sebenarnya semakin menciptakan sekat-sekat yang kemudian hari justru semakin mempersulit hidupnya sendiri. Kita semua terkurung dalam lingkaran “mimpi-mimpi” yang memabukkan , dan menyesatkan. Ketika anda menghalangi jalannya mimpi-mimpi dan berbagai “keinginan” saya , sudah pasti tak akan segan-sean saya menyingkirkan anda , apapun cara yang akan saya lakukan nanti.

Demikian pula sebaliknya , kita pun akan disingkirkan oleh “atas-nama-jaman” ketika kita tak sudi kompromi  dengan “keinginan” , hasil kerja “naluri” atau lebih tepatnya saya sebut hasil “kecerdasan muslihat” manusia-manusia disekitar kita .

Bagaimana anda menyikapi “keinginan” manusia disekitar anda yang ber “keinginan” seperti diatas . Sekali lagi ini sebuah pilihan . Tak ada pilihan untuk netral supaya aman-aman saja .

Anda akan tergilas bila hanya diam dan pasrah saja , sementara melawanpun juga tak ada jaminan anda “pasti” akan memenangkan pertempuran di medan laga. Ini pertaruhan bagi sebuah martabat yang dianugrahkan pada manusia .

About the Author

Bukan jurnalis bukan pejabat bukan juga politikus apalagi tentara....wong cuman seniman. Ibarat cermin bagi elok rupa maupun cermin bagi buruk rupa. Jangan membaca tulisan saya bila tampilan buruk rupa anda enggan dibaca.

2 Responses to “ Naluri ”

  1. Benar juga bung jsop,maju kena mundur kena
    Tapi tetap harus memilih ya??? (*sigh..*)

  2. kalau “diem” pasti ditabrak dari belakang soalnya , matek juga kan?

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.