Nature

nature.JPG

Strategi untuk mencapai sebuah keinginan bisa disusun / direncanakan lalu untuk dikerjakan. Dari rencana yang ber-skala kecil hingga sampai pada rencana ber-skala besar , rencana demi rencana tersebut muncul berderet dan berbaris se-iring tuntutan perkembangan jaman .

Kecerdasan otak manusia menghasilkan berbagai alat-alat pendukung seperti komputer dan lain sebagainya , agar daya tampung serta kemampuan otak manusia mengolah data / mengembangkan persoalan dapat terhindar dari beban yang berlebihan . (baca:stress)

Keinginan manusia atau dapat juga disebut sebagai nafsu manusia untuk menguasai persoalan dunia memang tak pernah ada limitnya . Bahkan setelah merasa bisa menjawab persoalan yang ada , manusia cenderung menciptakan ‘pertanyaan’ baru untuk bisa dijawabnya sendiri disuatu saat nanti .

Sungguh manusia adalah mahkluk yang complicated atau gemar mempersulit dirinya sendiri , apapun istilah dan judul kalimat yang hendak dipakai.

Dan alam yang tampak tak bergerak , tampak tak bersuara , tampak tak berbentuk dan terkesan diam , juga seringkali di-salah-tafsirkan oleh manusia itu sendiri . Naluri manusia kerap-kali menyikapi hal tersebut dan memandangnya sebagai sebuah benda /zat mati yang tak punya daya apa-apa , dia hanya akan menimbulkan sebuah konsekwensi namun manusia juga punya kekuatan dan cara untuk dapat mengendalikan konsekwensi yang ditimbulkannya. Selebihnya dia menjadi ‘ada’ , hanya untuk melengkapi kehidupan manusia di-dunia yang perlu bernafas , makan, minum ber-anak dan lain sebagainya .

Dan tentu saja Tuhan YME yang mem-perintah-kan dan men-ciptakan semua ini . Karena itu pula kita wajib dan harus selalu mendekatkan diri kepada-Nya , agar kita bisa memohon pertolongan dan terhindar dari konsekwensi yang tak mampu kita atasi sendiri demikian kalimat dari kata-kata yang kerap kita dengar sebagai jawaban dari berbagai soal secara keseluruhan.

Dari sepenggal uraian tersebut diatas , sungguh tampak dengan jelas bahwa manusia adalah mahkluk yang egois . Dia diciptakan untuk bisa menjadi pintar namun sekaligus juga memanfaatkan ke-pintarannya untuk memanipulasi berbagai kekurangannya. Dia merasa mampu menghadapi segala akibat dan konsekwensi yang ditimbulkan , dan apabila ternyata hal tersebut meleset dari perkiraannya , maka sungguh terasa teramat mudah jawabannya yakni :

“Sudah menjadi kehendak yang Maha Kuasa” .

alias takdir

Padahal jika saja , kita selalu setia kepada ‘keseimbangan’ maka ‘nature’ mungkin akan selalu berpihak pada manusia dan tak akan menjerumuskan kita .

Dialam realita kita dalam kehidupan menata sebuah bangsa , bagaimanakah bangsa Indonesia menempatkan ‘keseimbangan’ dalam kehidupan bermasyarakatnya?

~

Mencermati proses belajar dunia pendidikan Indonesia .. saat in kita terobses menaikkan peringkat kualitas sumber daya manusia yang ada , namun apa maknanya bila ternyata hasil yang dicapai semakin ber-kesenjangan dengan kebutuhan membangun kualitas masyarakatnya sendiri ?. Orang juga semakin didorong untuk lebih mengejar sertifikat daripada kenyataan harus menghasilkan generasi yang bisa berinteraksi dengan kondisi riil masyarakatnya sendiri , padahal dari merekalah kelak bangsa ini akan belajar untuk menyusun kekuatan bersama agar mampu mandiri .

Didunia ekonomi , kita tergoda mengejar laju pertumbuhan dengan melakukan berbagai ekspansi dan diversifikasi dari usaha yang sudah ada . Namun karena sistim distribusi yang terus melemah atau bahkan belum tercipta sama sekali . Maka kenyataan dan akibat yang muncul seperti kalimat sebuah pantun jenaka :

‘Hasrat hati mengundang investasi agar sejahtera cepat kumiliki’
namun…
‘apa daya tangan tak sampai’
akibatnya..sementara..
‘terpaksa jadi kuli lagi’

Sedikit dari berbagai ilustrasi yang saya tulis di-artikel ini untuk sekedar menggambarkan betapa ‘nature’ atau keseimbangan yang telah kita abaikan begitu lama , sehingga kenyataan yang diakibatkan hingga hari ini , adalah kesemrawutan tatanan kehidupan yang semakin membingungkan kita sendiri . Kita butuh mimpi untuk memotivasi diri , namun hidup di-alam mimpi jelas sesuatu yang lain lagi .

salam.

About the Author

Bukan jurnalis bukan pejabat bukan juga politikus apalagi tentara....wong cuman seniman. Ibarat cermin bagi elok rupa maupun cermin bagi buruk rupa. Jangan membaca tulisan saya bila tampilan buruk rupa anda enggan dibaca.

3 Responses to “ Nature ”

  1. mas jsop ini ada kaitannya sama dialog di tv qt soal pendidikan semlm ya? aq jg ngliat soalnya . dep.pendidikan vs pakar pendidikan (prof..?) yg intinya apa gunanya cas cis cus tp ngga bs kerja & ciptain lap.kerja bwat bangsa sendiri.

    emang sih..banyk org bangga cas cis cus dan ilmunya tinggi tp akhirnya spt mas ceritakan & tulis diposting yg lain tentang perilaku autis.

    mas mo bilang bhw banyak org sekrg ini jadi autis? kekekeke..

  2. kalau gitu bisa jg bikin lomba blog ter-autis dong. Khusus bagi blog yang cuma ngomongin dirinya sendiri. Iya…betul..! ini jg pembelajaran kan mas? bahwa narsis dan autis itu bedanya tipis hahaha *kaburrr seblm dimarahin..*

  3. Bisa.., bagi orang-orang yang menjawab se-enak dirinya sendiri (memperlakukan pendapat orang lain), apalagi yang sama sekali tak mau menanggapi dan menjawab respons/pendapat orang lain.

    Hal tersebut sering dipelintir dengan menggunakan topeng ‘hak azasi’ , padahal sebetulnya cuman pengen ‘narsis’ sendiri dan asyik bermain kata-kata didunianya sendiri .

    ‘Autis’ , itu kata lainnya .

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.