:Opini:lain:

james

“Bagaimana menyelamatkan asset bangsa”
Author : James & Lia Sundah

Kebudayaan Indonesia yang sangat beragam, merupakan aset yang sangat mahal bila dikelola dengan baik dan benar. Bahkan, kebudayaan dapat dipergunakan sebagai bargaining chip di dunia internasional. Namun, sebelum menjadi bargaining chip, kebudayaan tersebut perlu mendapat perlindungan secara lebih serius.

Harus diakui bahwa potensi kebudayaan Indonesia sangat luar biasa, dan dengan porsi yang tepat, dapat menghasilkan devisa yang sangat lumayan.

Tahukah Anda? Karena kalah cepat dan kalah strategi, berbagai negara adidaya telah mengklaim produk-produk budaya dari Indonesia menjadi milik mereka. Contohnya beragam. Seperti produk makanan tahu dan tempe, kini telah dipatenkan di Jepang, Amerika, dan negara-negara maju lainnya.

Pencarian di situs Pemerintah Amerika dan Inggris menemukan hak paten ratusan bentuk utama dan derivatif dari tempe atau soy isoflavone dan tahu. Quick Search mempergunakan istilah “tofu” dan “food”/”tempe” dan “food” dari situs US Patent and Trademark Office (http://www.uspto.gov) menunjukkan ratusan hasil pencarian yang berhubungan dengan kedua produk tersebut.

Musisi dari seluruh dunia, bahkan harus membayar royalti untuk penggunaan bunyi gamelan atau jegog yang hak atas kekayaan intelektualnya telah diklaim oleh Jepang. Bahkan, bunyi gamelan telah dipergunakan untuk terapi kesehatan oleh beberapa ilmuwan Jepang. Luar biasa, bukan?

Kesenian Tradisional

Indonesia kaya akan seni. Tercatat berbagai bentuk aktualisasi seni, termasuk lebih dari 200 akar musik tradisi dari berbagai daerah, alat-alat musik tradisional, dan produk tradisional lainnya, seperti penganan sampai metode pengobatan tradisional beserta ramuannya.

Hanya dari satu provinsi saja, misalkan, Sulawesi Utara, terdapat beberapa sub-etnik seperti Tondano, Tonsea, Tombulu, dan sembilan etnik lainnya yang tergabung dalam Minahasa. Belum lagi kesenian Sangir Talaud, Bolaangmongondow yang masing-masing memiliki kekhasan tersendiri.

Produk-produk budaya yang dimiliki, juga beragam. Dari sisi makanan saja, terdapat puluhan penganan khas seperti bubur Manado, rica-rica, bagea, dan lain-lain.

Bayangkan, apabila rica-rica diklaim sebagai makanan khas Afrika Selatan, atau musik Kolintang diklaim sebagai musik tradisi Pulau Penang, Malaysia, atau Filipina, atau diklaim sebagai kekayaan intelektual budaya sovereignties lain. Hal itu bisa dilihat dari situs di internet, seperti pada pencatatan di situs ensiklopedia dunia ma- ya, Wikipedia. (http://en.wikipedia.org).

Tanpa usaha lebih serius untuk melindungi aset-aset ini secara terpadu, bukan tidak mungkin beberapa tahun lagi semua kebudayaan yang kita miliki punah, seperti halnya fenomena yang terjadi di Condet. Condet, sebagai proyek mercu suar cagar budaya sejak era 1970-an, di mana semua kesenian dan pengetahuan tradisional Betawi terpusat di sana, punah hanya dalam waktu tiga dekade saja.

Salak condet, sebagai ikon budaya Betawi, sekarang hanya tersisa dalam logo burung elang yang sedang membawa salak terpampang di bis TransJakarta. Tak ada lagi salak condet dan kebudayaan yang melingkupinya. Yang ada tinggal slogan, Duku Palembang, Asli Condet.

Dengan kecepatan leburnya dunia dan seolah tidak ada lagi batas wilayah karena perkembangan teknologi informasi yang demikian pesat, perlindungan terhadap kekayaan budaya menjadi semakin penting.

Hal itu juga diperkuat dengan munculnya Komunitas Uni Eropa atau Schengen, kemudian penggunaan program Microsoft dari Kutub Selatan sampai Amerika, karya-karya musisi besar dunia seperti Beatles, Michael Jackson, atau ABBA yang melampaui batas-batas negara, dan fungsi diplomatik pada akhirnya hanya sebagai sebuah formalitas saja.

Bayangkan, asimilasi budaya sampai pada tahap ekstrem sehingga tidak diketahui lagi sebenarnya dari mana asal kebudayaan itu. Dimulai dari masuknya kebudayaan tersebut di tingkat lokal, lalu nasional, dan berakhir di pendaftaran hak atas kekayaan intelektual (HaKI) di negara masing-masing, sebelum ke penyosialisasian identitas tingkat internasional.

Tragisnya, sebagian besar pemilik kekayaan budaya yang masuk hak kekayaan intelektual ini masih dalam kondisi keterasingan teknologi. Klaim dari pihak luar yang memanfaatkan teknologi akan sangat efektif dan pada akhirnya negara pengklaim itulah yang dianggap memiliki hak atas produk budaya itu. Jangan lupakan Saluang (semacam modifikasi suling) dari Padang, Tanjidor dari Betawi, Sampe dari Dayak, Tifa dari Irian, sampai accapella dari Aceh yang terancam punah akibat tsunami.

lia

Kurang Perhatian

Harus diakui bahwa konstelasi prioritas dalam negeri masih kurang memberi perhatian terhadap berbagai aset budaya. Kekurangpedulian ini seakan tersirat dalam APBN 2005, di mana alokasi anggaran belanja pemerintah pusat totalnya adalah Rp 266 triliun, dan hanya Rp 399,3 miliar atau 0,15 persen saja yang diperuntukkan bagi pengembangan budaya dan pariwisata (budpar).

Divisi Pengembangan Nilai Budaya mendapatkan bujet sekitar Rp 61 miliar (0,02 persen dari APBN), Pengelolaan Kekayaan Budaya Rp 35 miliar (0,013 persen dari APBN), dan Pengelolaan Keragaman Budaya Rp 101,7 miliar (0,04 persen dari APBN).

Miris, karena seharusnya, aset-aset unik ini lebih diperhatikan. Bahkan, Badan Pusat Statistik di Jakarta mencatat sektor kegiatan yang menghasilkan devisa tertinggi kedua setelah sektor migas adalah pariwisata dengan capaian sebesar 4,8 miliar dolar AS, namun anggaran untuk itu sangat minim.

Berpikir dari posisi Indonesia dalam pentas global, seandainya saja tahu dan tempe berhasil disosialisasikan Indonesia sejak awal, lihat, betapa mudahnya “Indonesia” masuk ke coffee table (isue sehari-hari) warga dunia. Sama seperti ketika nama Italia yang terpampang ketika sepiring spaghetti dihidangkan di Istana Presiden sampai Gedung Putih.

Hal ini sebaiknya dilihat bukan hanya dari keuntungan ekonominya saja, karena kenyataannya budaya dapat menjadi awal terbukanya pintu-pintu negosiasi yang terkadang macet dalam komunikasi politik. Diplomasi budaya dapat menjadi “lem” yang tepat untuk menghadapi situasi politik dunia makin carut-marut.

Budaya, dan musik, dapat menjadi medium komunikasi universal ketika yang lain dianggap telah kehilangan kredibilitas. Karenanya, perlindungan terhadap aset-aset budaya Indonesia hendaknya mendapat perhatian seimbang. Yang dipikirkan bukan melulu pembelian pesawat, jalan-jalan studi banding, atau tahun lalu, pencabutan embargo senjata.

Hanya dibutuhkan perhatian lebih dan pengelolaan yang sedikit saja, maka akan diperoleh hasil yang setimpal. Bukannya tidak mungkin, penghasilan negara melalui sektor budaya dan pariwisata akan bisa menambal subsidi BBM pemerintah, atau bahkan menaikkan gaji pegawai negeri. Seandainya saja dua sektor itu diperhatikan!Penulis pertama adalah pencipta lagu; Penulis kedua adalah peneliti di CSIS
LINK:
[ >>> comment here<<< ]

5 Responses to “ :Opini:lain: ”

  1. ARTIKEL : 2

    howsfuture

    “Liberal arts”
    Dikutip dari http://www.netsains.com

    Tak cukup satu jenis pendekatan saja demi mengeluarkan Indonesia dari krisis.
    Sebuah tawaran solusi dari liberal arts. Seperti apakah itu?

    Indonesia telah didera krisis multidimensi. Krisis moneter telah menghantam negeri kita selama 10 tahun, walaupun sudah ada tanda perbaikan, namun masih sangat banyak yang harus kita lakukan. Krisis tersebut sudah merambah ke berbagai bidang, seperti politik, moral, pendidikan, sains-tek, budaya, dan religi. Sampai detik ini, tidak ada jalan keluar yang jelas dari krisis tersebut, karena setiap orang hanya memandang permasalahan itu berdasarkan latar belakang profesi dan kependidikannya belaka. Pendekatan multidisipliner untuk menangani krisis masih sangat kurang, karena egoisme sektoral yang kuat. Bagaimana jalan keluar dari krisis multidimensi ini?

    Liberal Arts: Apakah itu?

    Istilah artes liberales, yang sering digunakan pada Eropa abad pertengahan, bukan berarti sama dengan ‘seni’ yang dipahami jaman sekarang. Namun lebih mengacu pada cabang ilmu pengetahuan yang diajarkan disekolah pada waktu itu. Mereka disebut liberal (Latin liber, bebas), karena mereka ditujukan untuk melatih kecerdasan dari orang bebas, sebagai anti tesis dari artes illiberales, yang digunakan untuk kepentingan ekonomi. Liberal Arts bukan digunakan untuk mencari nafkah, namun untuk mempelajari sains. Biasanya kurikulim liberal arts merupakan kombinasi antara filsafat dan teologi, disebut juga sebagai skolastikisme.

    Cabang ilmu yang dipelajari liberal arts ada tujuh dan dapat diklasifikasi menjadi dua grup terpisah. Grup pertama adalah mempelajari tata bahasa, retorika, dan logika atau dialektika. Dengan kata lain, grup pertama biasa disebut sebagai kajian bahasa atau artes sermocinales. Grup kedua terdiri atas aritmatika, geometri, astronomi, dan musik. Sering juga disebut sebagai disiplin matematika-fisika atau artes reales/physicae. Grup pertama sering dianggap sebagai grup dasar, dimana cabang-cabang ini juga disebut sebagai artes triviales, atau trivium.

    Secara falsafah, ini berarti suatu pertigaan pada jalan. Sebagai kontras dari mereka, ada disiplin matematika fisika atau artes quadriviales atau quadrivium. Sering juga disebut sebagai perempatan pada jalan. Tujuh liberal arts adalah anggota dari sistem pembelajaran yang dimulai dari cabang bahasa sebagai tahap pertama, cabang matematika sebagai tahap kedua, dan sains sebagai tahap akhir.

    Sistem Sekolah

    Sistem liberal arts masih digunakan di sekolah-sekolah di Eropa dan Amerika sejak 2000 tahun yang lalu sampai sekarang. Filusuf besar seperti Pythagoras, Plato, dan St Agustinus sangat berjasa dalam pengembangan liberal arts. Para filusuf muslim, seperti Ibn Sina, Al Farabi, dan Ibn Rusyd juga mengembangkan paradigma yang serupa. Tidak mengherankan, jika seorang Al Farabi dikenal sebagai filusuf, musisi, dan dokter sekaligus. Sama dengan Eropa dan Amerika, di Iran pendekatan liberal arts masih dijalankan, walaupun dengan format berbeda. Di Perancis, puncak dari ‘liberal arts’ adalah pemberian pelajaran filsafat di tingkat ‘lycee’ (setara SMU). Seorang siswa harus mampu menulis artikel mengenai filosof tertentu, misalnya mengenai Friedrich Nietzche.

    Berbeda dengan di Indonesia, dimana kurikulum sekolah sangat tidak jelas orientasinya. Pelajaran apa yang menjadi prioritas, atau mana pelajaran yang untuk kepentingan ekonomi (pasar) dan mana yang untuk sains, sama sekali tidak jelas. Belum lagi momok ‘ganti menteri ganti kurikulum’ membuat Indonesia sangat sukar membuat kurikulum yang stabil. Hasilnya adalah egoisme sektoral. Sudah banyak perbaikan dan perubahan yang dilakukan Diknas, namun masih banyak pula yang harus dilakukan, termasuk mendesain kurikulum yang stabil dan mengangkat perspektif multisektoral.

    Falsafah Liberal Arts

    Di zaman Yunani Klasik, Plato memprotes dekadensi yang terjadi pada generasi muda, karena penyaringan informasi secara keliru. Pada buku ‘republik’ Plato menjabarkan konsep kependidikannya. Pada langkah awal, ia dimulai dengan kultur musik-gimnastik, yang berarti menggunakan indera sebagai instrumen untuk mengapresiasi yang indah dan baik (nada dan bentuk). Langkah kedua, adalah melalaui cabang matematika, yaitu aritmatika, geometri, astronomi, dan musik, yang beroperasi dengan kekuatan refleksi kita. Kajian matematika memungkinkan siswa untuk beranjak dari pengetahuan indrawi kepada perspektif intelektual. Sehingga siswa dapat secara bertahap menguasai teori angka, bentuk, kinetika, dan bunyi.

    Tahap ketiga, atau juga tahap terakhir, adalah penguasaan filsafat. Dalam hal ini, Plato mengajukan basis psikologis dari kajian-kajiannya, yang adalah: pengetahuan indrawi, pengetahuan reflektif, dan pengetahuan intelektual. Menurut Plato, pengetahuan tertinggi berada di dunia ide. Dalam dunia ide, terdapat pengetahuan mengenai ‘yang ideal’. Contoh kongkrit dari pengetahuan ideal adalah mengenai pembentukan negara ideal. Plato tidak percaya dengan demokrasi liberal. Menurut dia, jika rakyat dilepas begitu saja tanpa bimbingan dari orang bijak untuk memerintah suatu negara, maka yang terjadi adalah anarki.

    Menurut Plato, seorang negarawan haruslah sekuat seorang raja, namun sebijak seorang filusuf. Persekutuan orang-orang bijak yang memerintah negara, disebut Plato sebagai the guardian. Konsep idealisme Plato ini dioperasionalkan secara kongkrit oleh para founding father Amerika Serikat. Pemisahan kekuasaan yang dikenal di Amerika Serikat (Eksekutif, Legislatif, dan Yudikatif) harus dikepalai dan beranggotakan para guardian. Menjadi seorang senator atau anggota kongres, memerlukan persyaratan tertentu yang hanya bisa dipenuhi oleh seorang guardian. Indonesia mencoba mengaplikasikan konsep Plato, namun dengan modifikasi dan penyesuaian dengan kondisi lokal. Para founding father kita (Soekarno-Hatta-Syahrir, dll) sangat familiar dengan pemikiran Plato. Bahkan Bung Hatta pernah mengarang buku tentang Filsafat Yunani Klasik. Konsep ‘guardian’ Plato menjadi salah satu puncak dari falsafat yang medasari liberal arts.

    Bagaimana konsep dunia ide Plato mempengaruhi perkembangan sains-tek juga terlihat pada gagantifikasi Hukum Gravitasi. Isaac Newton menemukan hukum yang mengatur pergerakan benda langit, yang dikenal sebagai hukum gravitasi. Newton membangun hukum tersebut berdasarkan asumsi ideal, bahwa ruang adalah absolut dan kecepatan cahaya adalah relatif. Adapun di jaman Newton kecepatan cahaya belum diketahui, sehingga asumsi demikian dibangun. Newton, yang sangat dipengaruhi oleh pandangan dunia mekanistik Kartesian (Alam semesta adalah suatu jam raksasa, dengan dibantu sekrup-sekrup dan baut-baut yang menggerakkannya) berusaha mencari suatu gagantifikasi hukum mekanistik yang mampu menjelaskan alam semesta itu seperti apa. Adapun asumsi Kartesian yang digunakan sangat mempengaruhi perumusan Hukum Gravitasi. Rumus F=ma versi Newton telah menjadi rumus klasik yang sudah kita kenal sejak SMP(F=gaya, m=massa, a=percepatan).

    Namun rumus tersebut dibangun dengan asumsi ideal, bahwa massa itu konstan (tidak berubah), namun kecepatan cahaya bisa berubah-rubah. Rumus ini masih bisa menjelaskan pergerakan benda sehari-hari seperti pendulum dan roda (namun ada modifikasinya), adapun untuk menjelaskan pergerakan atom dan molekul sudah tidak bisa. Belakangan Albert Einstein mengkoreksi Hukum Newton dengan mengatakan bahwa kecepatan cahaya absolut, dan massa itu relatif.

    Selain pada kasus diatas, ternyata hukum gas juga dipengaruhi oleh konsep dunia ideal Plato. Rumus pV=nRT (p=tekanan, V=volume, n=mol, R=konstanta, T=temperatur) sudah menjadi rumus klasik yang kita kenal sejak SMP. Hukum gas ideal merupakan suatu idealisasi dari persamaan yang diikuti oleh gas secara nyata. Secara khusus, ternyata semua gas mengikuti persamaan tersebut jika tekanan semakin mendekati nol. Persamaan tersebut adalah contoh dari hukum pembatas, yaitu suatu hukum yang tidak diikuti secara pasti oleh gas nyata, namun akan semakin valid ketika tekanan diturunkan dan diikuti secara pasti ketika tekanan menjadi nol. Sementara, gas nyata tidak berperilaku seperti yang ditunjukkan rumus diatas. Hukum gas ideal tidak mempertimbangkan adanya daya tarik dan daya tolak antara molekul gas, yang menjadikan rumus gas nyata mengkoreksi rumus gas ideal.

    Kasus ‘idealisasi’ seperti diatas sangat banyak dalam perkembangan sains-tek, diantaranya asumsi Darwin bahwa sifat (trait) organisme diturunkan berdasarkan ‘percampuran darah’. Darwin percaya bahwa sifat organisme dari ‘offspring’ pasti merupakan campuran dari sifat kedua orangtuanya. Ternyata asumsi ini tidak benar. Teori Darwin ini akhirnya dikoreksi Mendel dengan Hukum Genetika.

    Saintis besar seperti Isaac Newton, Albert Einstein, Charles Darwin, dan Gregor Mendel adalah produk dari sistim pendidikan liberal arts. Mereka mampu memahami semangat keilmiahan dari zamannya, karena sangat memahami falsafah dari sains.

    Secercah Harapan

    Artikel mengenai liberal arts ini masih jauh dari lengkap. Penulis baru memasukkan tataran konseptual dari liberal arts. Namun tataran praktisnya masih akan ditulis pada kesempatan lain. Dari tataran teoritis ini, diharapkan kita bisa memulai wacana mengenai bagaimana memajukan perkembangan sains-tek di bangsa ini. Artikel ini menyodorkan perbedaan kultural yang sangat lebar antara barat dan Indonesia, dalam perspektif falsafaf sains. Penulis mencoba menjawab pertanyaan mengapa Eropa bisa sangat maju perkembangan sains-tek nya dari tulisan ini. Ternyata, kemajuan yang mereka capai adalah karena penguasaan filsafat. Belajar filsafat adalah belajar how to think right dan to find the truth, yang berbeda dengan sekedar think to live atau think to rich.

    Arli Aditya Parikesit,.M.Sc
    Penulis adalah Dosen Bioinformatika MIPA Universitas Indonesia

    LINK:[—->Comment here< ----]

  2. Artikel : 3

    pak harto & bu Tien

    Biar bagaimanapun Soeharto adalah salah satu pemimpin bangsa kita , karena itu suka atau tidak Soeharto adalah sejarah yang tak bisa dan tak boleh dihapus dari ingatan didalam kepala . Setelah Soeharto tenang dikebumikan sayapun tergerak untuk menuliskan berbagai pandangan pribadi saya . Ini sebuah tangung jawab moral sebagai warga negara yang harus menghargai segala bentuk fakta sejarah bangsanya . Semoga tak ada oknum yang mengulang-ulang perilaku sama yaitu membelokkan arah kenyataan perjalanan sejarah itu sendiri , sebab peradaban hari inipun akan tercatat sama saja buruknya bila masih melakukan keburukan-keburukan yang sama walau obyek muatannya berbeda .

    Soeharto dimata saya sebagai warga negara .

    Soeharto dalam perspektif saya sebagai seorang seniman jelas akan menjadi lain bila ditengok dari sudut yang berbeda , dan itu juga sah-sah saja . Saya akan mencoba bicara dengan jujur apa adanya tentang hal-hal apa saja yang pernah terlewatkan dalam hidup saya semasa pemerintahannya berjalan hingga hembus nafas yang terakhir akhirnya menjemputnya . Sekali lagi , ini hanya pandangan sebatas lewat kacamata saya secara pribadi.

    Dari semenjak saya berusia remaja di thn.70’an saya tak pernah tertarik untuk terlibat dalam urusan-urusan yang menyangkut dunia perpolitikan di Indonesia , meskipun saat itu banyak teman-teman disekeliling saya yang sudah jauh terlibat dalam berbagai peristiwa politik , seperti ‘malari’ dan lainnya. Bahkan ibu saya pernah menghardik saya , mungkin beliau kecewa sebab saya terkesan sinis dan acuh tak acuh dalam menghadapi berbagai peristiwa pemilu yang harusnya ngantre untuk nyoblos gambar yang seperti gambar-gambar di cerita/dongengan mimpi anak-anak atau dalam komik / sandiwara. Masih teringat kalimat yang ibu saya pernah ucapkan pada saya “Kamu harus belajar ber-terimakasih sebab bapakmu itu seorang perwira polisi yang digaji pemerintah dan hidup dari negara” dan lain sebagainya.

    Saya sering dongkol / kesal setiap kali ada tontonan di media Teve kita (tvri) yang menanyangkan berita-berita mengenai Soeharto . Sebab Soeharto diletakkan seolah figur sesosok dewa atau seorang raja , kalimat tepatnya . Mereka memuji-muji tak habis-habisnya sampai ‘geli’ kuping ini mendengarnya bahkan susunan kalimat-kalimatnya sudah jauh dari sekedar menyembah .. , menjilat..? akh…masih lebih parah lagi . Sulit saya menemukan istilah bagi julukan yang ada dalam kepala saat itu . Muka dan raut wajah mereka sudah sangat lekat terekam didalam memori dikepala saya . Tak akan mungkin bisa hilang dan terhapus begitu saja.

    Lalu disaat saya mulai menulis lagu-lagu kritik sosial (jurang pemisah) saat itulah teropong keker saya tujukan pada sosok Soeharto yang presiden Republik Indonesia , mulai saya fokuskan arah lensa nya kesana . Saya mulai pengen tau tentang cerita yang lebih lengkap dan sebenarnya peristiwa sejarah G 30 S sampai urutan kisah sejarah misteriusnya Super Semar berada.

    Namun apa yang terjadi dan yang saya alami adalah sulitnya memperoleh sumber informasi yang kredibel dan terpercaya , sebab semua pintu-pintu keterangan sejarah yang ada hanyalah rekayasa serta hasil kerja dari begundal-begundal penjilatnya saja.Notabene itu semua hanya membuat orang seperti saya hanya bisa geleng-geleng kepala sambil menggaruk-garuk apa saja yang tidak terasa gatal dan sebenarnya tak perlu digaruk. (ya…politik..disitulah letak kebusukannya)

    Pada saat terjadi peristiwa ‘Malari’ , sayapun larut bersama kelompok masyarakat lainnya , bergabung dalam barisan mahasiswa UI ditengah-tengah jalan yang kemudian lari tunggang-langgang ketika diburu kendaraan mesin berlapis baja di salemba raya , padahal saya bukan pengikut irama gendang politik praktis . Namun entah mengapa , sepertinya ada solidaritas yang muncul seketika untuk turut ramai-ramai melempari panzer yang ditumpangi oleh seorang Jendral yang kebetulan saya tau ternyata dia itu bapaknya teman saya pula ..hehe . (jelas saya memang tampak sebagai kelompok penggembira, memang..) *maafkan saya pak kalo timpukan saya ada yang mengena kepala bapak*

    Tahun silih berganti hingga suatu saat ketika saya sedang berada disebuah jalan raya yang kemudian di stop oleh polisi agar meminggirkan kendaraan yang saya setir , sebab ada pak Harto mau lewat demikian kata pak polisi pada saya . Maka setelah kendaraan saya pinggirkan lalu saya buka pintu untuk keluar dan menunngu iring-iringan tersebut . Mengapa sampai saya keluar? sebab saya sudah berhenti selama 10 menitan bersama warga-earga lainnya sementara konvoi tersebut belum juga terlihat nongol batang hidungnya , jangankan terlihat..suara sirine para pengawalnya saja belum terdengar . Lalu mengapa juga pak polisi tersebut menghentikan kami padahal konvoi masih jauh sekali … ,huh.

    Tak berselang lama kemudian barulah rombongan iring-iringan tersebut nampak dan terlihat mata saya , tahukah anda perasaan apa yang terlintas dalam benak saya saat itu . Perasaan dari seorang warga negara biasa (bukan aktivis politik) yang juga lebih banyak dongkolnya atau kesalnya saat melihat Pak Harto dianggap dewa diberbagai media-media koran sampai televisi republik Indonesia .

    Saat itu…wuihh..luar biasa … , mungkin saja ini semua karena akibat saya terpengaruh oleh atsmosfir lingkungan yang ada disaat itu . Semua orang serentak jadi diam sepi tak bergerak … entah kagum , entah takut , entah memang karena rasa hormat…. nggak jelas. Yang jelas atsmosfir suasana tersebut turut menerjang mempengaruhi suasana bathin saya … “terperangah..” saya dibuatnya .

    Itulah saat-saat dimana saya bisa merasakan apa yang pernah digambarkan dalam kisah-kisah pewayangan jawa ketika ada sekelompok rakyat sedang berhadapan dengan rajanya , entah itu raja dari astina atau raja dari pandawa . Yang membedakan hanya saya tidak jongkok lalu ndeprok ditanah , namun tetap tegak berdiri sambil mengamati wajah sang jendral yang tampak dari balik jendela mobilnya . Tanpa senyum khasnya … diam dan hanya lurus menatap kearah depan saja . Benar….! sebuah kewibawaan yang tiada ada tandingannya jika disejajarkan dengan berbagai nama-nama presiden setelahnya . Maaf bukan saya menghina .. namun memang ‘culun’ adanya kalau tidak mau disebut ke-ge-er-an.

    Saya jauh jadi lebih menyadarinya lagi ketika suatu saat berada di Bandara JFKennedy AS ada seorang portir dan supir taxi yang mengetahui asal-usul negara saya , mengapa koq spontan kalimat basa basi yang mereka ucapkan sama: “hows your king” bukannya how are you. Rupa-rupanya Soeharto sebagai seorang Raja sudah diakui keberadaannya oleh berbagai orang diberbagai pelosok penjuru dunia. Ini sebuah realita / fakta yang tak terpungkiri , Soeharto memang populer sepopuler pulau dewata / Bali .

    Republik Indonesia..? nama itu masih asing bagi sebagian besar orang-orang dipenjuru pelosok dunia.

    Barulah kesadaran kolektif muncul dan secara perlahan tersusun dalam benak saya untuk lebih mengenali siapakah serta seperti apakah sebenarnya sosok pemimpin saya yang juga presiden saya tersebut. Saya mulai belajar untuk lebih dalam memahami strategi politiknya . Mengapa dia menyusun repelita demi repelita , mengapa dia meggunakan kekuasaannya untuk berani memasuki wilayah “moral hazard” , bisnis-bisnis yang dia halalkan segala macam caranya , bahkan ‘petrus’ atas nama stabilitas dan demi keamanan negara .

    Hingga akhirnya tergambar dengan jelas dikepala saya , bahwa Soeharto memang membangun pencitraan dirinya bukan hanya sebagai seorang presiden saja , namun nalurinya lebih kuat mendorongnya untuk berperilaku sebagai seorang raja . Sebegitu takabur-nyakah dia ..? Saya mulai lagi memasuki babakan baru untuk memahami segala gerak gerik & tindak-tanduk langkah-langkah politiknya .

    Ternyata dia bukan tokoh naif seperti lazimnya tentara-tentara kita yang taunya cuman ngokang senjata lalu dooor..! yang lebih berpikir seperti robot serta maunya semena-mena bila berhadapan dengan rakyatnya sendiri (saat itu) . Soeharto bukan tokoh yang tak mengenal dengan baik sejarah perjalanan bangsanya . Justru karena tingkat akurasinya yang tinggi dalam memahami psikologis masyarakatnya maka dia pun ber-kebijakan serupa untuk menyelenggarakan berbagai aturan bagi sistim pemerintahannya.

    Yang tentu saja bila diukur dari sistim ketatanegaraan sebuah negara republik hal tersebut sangat bertolak belakang / bertentangan (azas demokrasi dsb). Namun bila dipandang ditilik serta ditelusuri dari sejarah masa lampau masyarakatnya yang berasal dari peradaban monarki , apa yang dilakukan Soeharto adalah hal-hal yang memang sudah semestinya dilakukan oleh seorang raja untuk mengatur rakyatnya . Itulah dilemasi yang tercipta dari masa-masa kepemimpinannya , ini menurut saya .

    Menjadi penting bagi saya bahwa Soeharto sudah membuktikan dan mampu melakukannya , sebab tidak semua orang dikaruniai kemampuan untuk bisa kuat mengusung naluri kebangsawanan yang bersifat kerajaan tersebut . Dibayar dengan seberapapun jumlahnya .. tak ada value materi yang mampu bisa membelinya , sebab dia adalah ‘aura’ . Masyarakat romantic menyebutnya dengan “wangsit”

    Dengan mengambil alih posisi sebagai seorang “raja” bagi seluruh wilayah yang tersebar di pelosok nusantara , maka Soeharto terbukti mampu meredam segala gejolak yang mengarah untuk menentang segala kebijakannya , sekaligus meredam perbedaan kultur lokal masyarakat nusantara yang ratusan jumlahnya.

    Akhirnya saya memahami juga mengapa Jepang masih mempertahankan ke-kaisaran-nya , thailand , malaysia bahkan Inggris dengan Great Britain-nya . Rupanya Soeharto paham betul bahwa simbol-simbol kerajaan tak bisa dihapus begitu saja dari memory kolektif masyarakat yang tadinya memang berasal dari bangsa yang tunduk dan menyembah / mengabdi pada rajanya . Sekali lagi saat itu kita semua harus mengakui bahwa Soeharto memang pintar/cerdas serta terbukti cemerlang dalam mengelola otak jalan pikirannya .

    Masa-masa tahun berikutnya berbalik dari rasa kebencian menjadi kekaguman saya pada sosok Soeharto . Tapi kekaguman saya juga relatif / subyektif dan tak bisa disebut obyektif apalagi untuk bisa saya pertanggung jawabkan , sebab saya juga buta dan tidak tau bagaimana cara dia menghimpun kekuasaannya lewat kekuatan “dana” yang bimsalabim asal muasalnya bagi terselenggaranya mesin politiknya tersebut .

    Satu hal yang pasti bahwa saat itu saya melihat sosok Soeharto yang cukup bersih dari hidup jor-jor’an karena kelebihan harta dan sebagainya . Semua yang ada disekitarnya nampak sederhana dan bersahaja . Seperti juga saya melihat sosok putrinya ketika masih sekolah dibangku sma 3 . Tak ada tanda-tanda orang kaya yang sombong , namun kesan sebagai anak seorang ‘raja’ tak bisa saya pungkiri walaupun saya juga tidak mengenalnya secara personal .

    Malapetaka persepsi saya muncul kembali disaat saya mengamati perkembangan berikutnya .Saat tersebar sebuah berita yang beredar dimasyarakat bahwa Soeharto memarahi Sumitro sang begawan ekonomi kita saat itu . Konon katanya ketika itu alm. Sumitro beritikad untuk mengingatkan Soeharto bahwa putra-putri presiden akan menjadi preseden yang buruk bila dibiarkan serta diijinkan memasuki wilayah bisnis terbuka.

    Lebih akurat lagi informasi yang saya dapatkan ketika saya berkenalan dengan seorang pengusaha minyak nasional dan kapal tanker terkemuka . Sebagaimana seperti diceritakannya pada saya ketika Benny Moerdani yang saat itu sebagai “orang nomor dua” di negeri ini diperintahkan untuk mengambil alih pengelolaan super tanker dari tangannya untuk segara diserahkan kepada sang putera tercinta.

    Saya sendiri tak berhak untuk menilai siapa sebenarnya yang lebih berhak dalam hal tersebut , itu bukan wilayah urusan yang saya perlu tau , namun keterlibatan putera-puteri presiden dalam urusan bisnis raksasa sudah jelas sangat mengecewakan bahkan meruntuhkan rasa kekaguman saya yang sudah terbangun sebelumnya. Hari-hari selanjutnya bisa kita saksikan sendiri , bahkan urusan bisnis taxi hingga buah-buahan saja tak luput dari jangkauan gurita raksasanya. Saat itulah hati kecil saya kerapkali berbisik bahwa masa kebesaran sang raja sudah mulai terancam menuju kepunahannya .

    Semua orang dilevel jelata tak lagi membicarakan Soeharto sebagai seorang pemimpin yang teladan dan patut dibanggakan , mereka memang masih diam tapi karena takut bukan lagi karena rasa hormat , ungkapan rasa kasih sayang Soeharto secara manusiawi sebagai seorang bapak terhadap anak-anaknya justru melahirkan bom waktu yang tak bisa diredam lagi , kondisi tersebut semakin diperkeruh oleh kroni-kroni disekelilingnya yang tak mau ketinggalan kereta dengan putra-putrinya . Semuanya bergabung layaknya dalam barisan arisan yang sama yaitu menggerogoti uang rakyat Indonesia.

    Kesan-kesan saya secara pribadi terhadap Soeharto diatas memang sebatas cerita sebelum peristiwa reformasi ditahun 98’an dan tidak menyinggung masalah-politis apalagi HAM dan sebagainya , terlalu panjang dan banyak sekali hal-hal lain yang terjadi namun itu bukan kompetensi saya untuk berhak membicarakannya secara rinci .

    Sebelum Soeharto akhirnya wafat , semenjak saya menyaksikan kehadirannya pertama kali untuk memenuhi panggilan kejaksaan agung bagi pemeriksaan atas dugaan korupsi dalam yayasan super-semar dan sebagainya , pertanyaan saya sampai hari ini hanya satu . Hingga sampai Soeharto akhirnya meninggal dunia pertanyaan itu masih tak terjawab .

    Mengapa ada skenario pembiaran dan kesengajaan yang tampak sangat jelas tak bisa ditutup-tutupi , yaitu Soeharto jangan sampai diadili . Apapun alasan yang hendak digunakan sebagai tameng berbagai istilah-istilah yang mudah diciptakan , namun jelas.. ada sebuah kekuatan politik yang menghalang-halangi proses tersebut bisa terlaksana . Mengapa tiba-tiba para “orde-baru’s” berbalik arah lagi , menjilat lagi ludahnya sendiri ketika mereka dulu ikut-ikutan dalam barisan reformasi yang secara serentak juga berteriak lantang mencaci Soeharto . Kini mereka berbalik lagi berteriak lantang bahwa Soeharto adalah pahlawan bangsa serta tak ternilai jasa-jasanya bagi negara beserta seluruh lapisan masyarakat Indonesia .

    Benarkah Soeharto itu keji dan jahat atau Soeharto adalah korban dari management by conflictnya sendiri . Ibarat memelihara anak anak macan yang akhirnya menerkam dirinya sendiri . Didalam pandangan saya sejarah Soeharto agak-agak mirip dengan ‘revolusi’ yang diciptakan oleh Soekarno , yaitu berhenti ditengah-tengah perjalanan ambisi besar cita-citanya karena keterbatasan waktu dan usia manusia . Serta ketidak sanggupan mengelola anak-anak macannya sendiri . Sebuah pertanyaan yang akan terus menggantung-gantung tak terjawab selama kroni-kroninya masih berambisi untuk berkuasa . Berbeda sewaktu Soeharto mengambil alih tongkat komando dari tangan Soekarno dahulu , seluruh kroni Soekarno dikurungnya rapat-rapat tak diberi kesempatan untuk bergerak kesana-kemari .

    Proses peradilan yang semustinya bisa menghentikan polemik tersebut , entah itu hasilnya buruk entah itu mungkin saja bisa memperbaiki nama baik Soeharto kembali , semua itu dijadikan sandera politik bagi alat tawar menawar dagang sapi . Maka setelah Soeharto wafat jelaslah sudah bahwa tidak ada lagi yang bisa disebut penghianat rakyat kecuali mereka-mereka yang air liur ludahnya semakin deras menetes karena ngiler ingin berkuasa lagi.

    Kita semua bukan orang-orang bodoh lagi , bahwa Soeharto berjasa itu jelas sudah terbukti dan tak perlu diberitahu lagi , namun Soeharto juga meninggalkan sejumlah permasalahan yang dengan sengaja kalian semua menutup-nutupinya , ada apakah gerangan didalam otak bengis mereka semua… Permainan apa lagikah yang sedang mereka persiapkan untuk ditontonkan lagi bagi masyarakat yang sudah semakin menderita ini .

    Bau busuk ini semakin terasa menyengat ketika saya melihat gejala yang nyata bahwa keluarga cendana-pun terlihat berusaha menutup rapat-rapat pintu dan celah bagi masuknya petualang-petualang politik saat ini . Ada sebuah permainan besar yang sedang melibatkan tiga atau lebih tokoh-tokoh yang ingin jadi pelakon panggungnya . Ironisnya permainan tersebut tidak menghibur rakyatnya yang sedang berduka apalagi menyembuhkan luka .

    Tontonan tersebut adalah dongeng basi yang diperankan oleh tokoh-tokoh basi dan hanya melahirkan janji-janji yang baunya pasti juga akan basi .

    Pandangan saya secara pribadi bagi seorang tokoh kontroversial yang namanya Soeharto saya sudahi saja . Tak ada kalimat lain yang bisa terucap selain “waspada..terhadap tingkah laku orba , sebab ORBA sudah lama bukan milik Soeharto lagi , ORBA adalah representasi dari makhluk-makhluk bengis berwajah domba yang sudah lepas dari kandang si empunya” Dan siempunya telah pergi meninggalkan kita yang terjebak dalam berbagai misteri.
    LINK
    [—>comment here< ---]

  3. ARTIKEL lV

    RATIONALITAS TOLAK HARGA BBM NAIK
    Oleh: Yanuar Rizky

    Kalau saja APBN adalah wujud interaksi konstitusional antara rakyat
    (pemilih) dengan pemerintah sebagai pelaksana yang dipilihnya..

    Kalau saja partisipatif tersebut dapat dijamin dalam sistem politik
    anggaran menuju ekonomi rakyat yang bekerja penuh…

    Maka, ada yang perlu dipertanyakan dari rencana pemerintah menaikan
    BBM dengan kambing hitam “gejolak perekonomian global”.. ditengah
    begitu dahsyatnya saat ini (seperti juga telah dibangun sejak lama)
    bahwa framing opini digiring “pilihan menaikan BBM adalah pilihan
    rasional”..

    Rasionalitas adalah proses dan cara berpikir, bukan soal dukung atau
    tolak… DAN seandainya transparansi itu masih ada sebagai bagian tak
    terpisahkan dari hak partisipatif.. Faktanya sederhana saja, sinyal
    fluktuasi global ke arah peradangan harga minyak dunia (DI BURSA
    KOMODITAS) seperti mengulang kejadian tahun 2005 (dimana saat itu juga
    pemerintahan SBY-JK menaikan BBM) telah terlihat sejak bulan September
    2007 SAAT perang instrumen moneter antara Bank Sentral AS (The Fed)
    dengan Cina (PBC) telah ON kembali dan mulai memicu kenaikan Minyak

    Jika tertarik bisa melihat tulisan saya saat alerting tersebut
    terlihat di kolom Bisnis Indonesia On-line Waspadai Uang Panas Bisa
    Terbakar Minyak” Bisnis Indonesia on-line, 24 September 2007
    (http://www.elrizky.net/artikel.php?opt=1&id=203) DAN mengurainya di
    Kompas dua kali..(1) Memanfaatkan Bumerang Finansial The Fed Kompas,
    29 Desember 2007 (http://www.elrizky.net/artikel.php?opt=1&id=230) ;
    (2) Mengendalikan Angin Finansial Pertikaian AS-RRC Kompas, 5 Februari
    2008 (http://www.elrizky.net/artikel.php?opt=1&id=235). Dari sisi
    uraian “history repeat on itself” antara 2005 dan 2007 bisa diihat di
    kolom Gatra 1-7 November 2007 Terjebak Off-Side Harga Minyak
    (http://www.elrizky.net/artikel.php?opt=1&id=219)

    Terkait hal itu, rasanya layak untuk mengajukan pertanyaan mendasar
    PENTING terkait kebijakan harga BBM (ini bukan soal naik atau tidak,
    tapi sekali lagi cara berpikir)… Dimana, Menkeu selalu bilang dalam
    pembahasan RAPBN 2008 dan saat APBN 2008 dimulai bahwa krisis mortage
    tidak berpengaruh… lihat saja Kompas 18 Januari 2008 hal 19
    (http://www2.kompas.com/kompas-cetak/0801/18/ekonomi/4173289.htm) …
    mari kita ambil bagian di berita tersebut:

    kata Sri Mulyani, keterpurukan tersebut tidak langsung berdampak pada
    perekonomian Indonesia. “Krisis perbankan atau bahkan likuiditas itu
    tidak berarti langsung ditransmisikan ke Indonesia,” ujar Menkeu.
    Indonesia masih memiliki daya tahan dalam menghadapi krisis sebab
    semua unit ekonominya masih baik. Ini dilihat dari sisi neraca
    perbankan, Bank Indonesia, dan neraca pemerintah.

    Lalu, kalau sedemikian YAKIN akan kuatnya fundamental kenapa sekarang
    MERADANG dan salahkan global.. sekali lagi ini bukan durian runtuh..
    ini gejolak yang sudah terlihat dari 9 bulan lalu.. Dalam dunia
    finansial dikenal sinyal ucapan seorang leader adalah fatsoen karena
    dikenal mazhab “My Word is My Bond”… Kalau sekarang runtuh dan hanya
    dengan gampangnya bilang GEJOLAK GLOBAL… maka, rasional juga untuk
    menyatakan menolak kenaikan BBM, karena kalau menerima tanpa MERASA
    ada HAL BESAR yang telah dilakukan pemerintah dalam mengantisipasinya
    dalam tengat waktu 9 bulan terakhir ini, adalah sebuah keNAIFan dari
    cara berpikir…

    Sekarang semua harus dikembalikan ke pemerintahan SBY-JK.. jangan
    mudah cari Kambing Hitam.. berilah kami generasi berikutnya sebuah
    ajaran tentang TEROBOSAN dan INOVASI bukan sikap pasrah… bagi
    pemimpin, kejadian hari ini adalah akibat dari masa lalu.. putusan
    hari ini adalah dimensi masa depan bagi anak bangsanya…

    Bangsa yang besar bangsa yang belajar dari sejarah… Kita miskin
    bukan karena kutukan, juga bukan karena globalisasi, dan juga bukan
    karena tidak punya sumber daya TAPI kita perlu khawatir karena kita
    semakin defisit “concerned citizens think out of the box” dikarenakan
    pelestarian cagar budaya kambing hitam.. Semoga saja itu salah!
    (10 tahun reformasi, 100 tahun Kebangkitan Nasional: “Jayalah
    Negeriku, Sejahterlah Bangsanya”)

    Salam,
    LINK: Yanuar Rizky
    (anak muda Indonesia biasa saja)

    COMMENT HERE [Garudaku]

  4. radhar
    “KETIKA MALIN MENJADI KAYA”

    Ditulis oleh: Radhar Panca Dahana
    Pekerja seni dan pemerhati budaya

    Ketika sang ibu, yang boleh jadi simbol Bundo Kanduang, melepas anaknya, Malin, pergi merantau, bukan sekadar karena ia ingin anaknya itu menjadi kaya raya ketika kembali. Karena ternyata kekayaan telah membuatnya lupa, membuka luka pada rahim yang melahirkannya, hingga membuatnya terkutuk menjadi arca.

    Pada masa lalu, tradisi merantau negeri Minang ini lebih dibumbui oleh etos dan semangat mencari ilmu. Sebagaimana ada dalam mitologi . Datuk Perpatih nan Sabatang, yang konon mengembara hingga Yunani,berguru pada Aristoteles, bahkan menjadi salah satu anggota think tank-nya Aleksander Agung.

    Dari semangat dan etos itulah kemudian pulang para “Malin” yang kaya ilmu kaya budaya. Seperti Sjahrir dan Hatta yang negarawan besar,Tan Malaka yang pejuang besar, Chairil Anwar dan Mohammad Yamin yang sastrawan besar, atau Hamka yang ulama besar. Bukan emas dan uang yang mereka bawa pulang, melainkan karya dan nama besar yang mereka berikan pada Bundo Kanduang.

    Tapi tidak sekarang. Siapa perantau hendaklah kembali ke bumi Minang dengan pundi-pundi. Dan perlihatkanlah itu lewat hadiah, bingkisan, bantuan, atau sumbangan pada sanak, masjid, atau nagari. Itulah dia orang besar. Jika ia datang hanya membawa gelar, bolehlah bersembunyi di biliknya sendiri. Akanlah lebih bermakna pedagang sepatu kaki lima yang pulang membawa harta simpanan ketimbang gelar kesastrawanan nasional, seperti Afrizal Malna, yang ternyata tak dikenal bahkan oleh para petingginya sendiri.

    Pergeseran standar hidup, yang pada akhirnya nilai dan juga moral, itu tampaknya kini sudah given, lumrah, tak dapat ditampik. Hidup di masa kini, kaya adalah kewajiban, norma yang imperatif. Pupuklah uang biar ia bertimbun tanpa batas, hingga ia pun tak harus dibawa ke mana. Seperti yang terjadi saat ini di negara-negara kawasan . Teluk yang mengalami over-likuiditas karena kenaikan harga minyak yang fantastis.

    Para peraih untung gila-gilaan itu kini merasa bingung, hendak dibawa ke mana atau dibuat apa uang yang terlalu banyak itu. Sementara ada satu moralitas yang menyatakan, jangan biarkan uang terdiam, biarlah ia kawin dan beranak-pinak. Jangan berhenti menjadi kaya, jadilah kaya, jadilah lebih kaya, lebih lagi, dan lebih lagi. Bahkan kematian tak mencegah seseorang untuk menjadi lebih kaya.

    Itulah etik yang dibawa oleh kapitalisme. Bahwa kapital tidak bisa (boleh) diam. Hingga ketika uang terlalu banyak dan tidak produktif, dalam arti produksi riil, maka uang itu diputar secara maya untuk dikawinkan dan berketurunan. Lewat saham, obligasi, dan berbagai bentuk investasi.

    Uang dalam jenis itulah yang kini merajalela. Ia tidak produktif hanya diputar lewat satu mekanisme pasar virtual hingga bisa menyedot uang dari berbagai sumber lain. Itulah yang dilakukan kapitalis-kapitalis keblinger uang dari Eropa, Amerika, atau Timur Tengah. Itu juga yang dilakukan John D. Arnold, hingga dinobatkan oleh majalah Forbes sebagai orang termuda terkaya di dunia. Dalam usia 33 tahun, ia memiliki US$ 1,5 milyar (sekitar Rp 14 trilyun) melulu dari kegiatannya berinvestasi.

    Kekayaan menciptakan kekaguman, membentuk ketokohan, bahkan menyusun kekuat(sa)an. Walau sebenarnya, bisa jadi semangat yang ada di baliknya telah menjadi tragedi kemanusiaan terbesar dalam peradaban cyber ini. Mengapa? Pendek saja, lantaran semangat yang terlukis di atas, memiliki konsekuensi logis, kekayaan (yang membesar) hanyalah milik orang kaya saja.

    Logikanya sederhana. Orang yang sudah kaya (karena keturunan atau hal lainnya) memiliki peluang (untuk menjadi lebih dan lebih kaya) beberapa kali lipat dari orang yang tidak kaya (miskin). Modal/kapital yang dimilikinya, sistem ekonomi, struktur peluang yang ada, hingga norma/kultur yang berlaku pada saat ini memang dibuat untuk mengakomodasi hipotesis itu.

    Maka wajar, seseorang yang memiliki Rp 10 milyar lebih berpeluang memperoleh Rp 10 milyar keuntungan ketimbang pemilik Rp 10 juta. Orang terakhir ini mungkin sulit bahkan takkan memperoleh Rp 10 juta tambahan, karena untuk mendapat keuntungan Rp 10 milyar, sang pemilik modal Rp 10 milyar harus mengisap pula uang keuntungan, bahkan modal dari pemilik Rp 10 juta.

    Yang kaya bertambah kaya, yang miskin pasti sengsara. Itu bukan pemeo. Itu sistem dan teorinya. Mungkin ada modal Rp 10 juta meraih Rp 10 milyar. Namun dipastikan posisinya sebagai kasus 1:1 juta. Dan sistem atau teori tidak disusun untuk kasus.

    Maka, tak mengherankan bila para pengemplang BLBI hingga saat ini masih petantang-petenteng sebagai konglomerat besar. Dengan kuasanya ia membuat orang lain tak berdaya. Bahkan pemerintah angkat tangan ketika pengembalian utang itu hanya mencapai 10%-15% dari utang pokok mereka.

    Lalu, mengapa kita membela dan menjunjung sistem dan struktur yang dalam standarnya bukan saja tidak adil, melainkan juga memeras, menindas, atau menciptakan imperium (imperialis) di atas luka kesengsaraan rakyat banyak ? Tidakkah berani kita merenungkannya kembali?

    Radhar Panca Dahana.

    [>>>COMMENT HERE< <<]

  5. Ditulis Oleh Adian Husaini

    Masih ingat Lia Eden? Dia mendakwahkan dirinya sebagai Jibril Ruhul Kudus. Lia, yang mengaku mendapat wahyu dari Allah, pada 25 November 2007, berkirim surat kepada sejumlah pejabat negara. Kepada Ketua Mahkamah Agung RI, Bagir Manan, Lia berkirim surat yang bernada amarah. ”Akulah Malaikat Jibril sendiri yang akan mencabut nyawamu. Atas Penunjukan Tuhan, kekuatan Kerajaan Tuhan dan kewenangan Mahkamah Agung Tuhan berada di tanganku,” tulis Lia dalam surat berkop ”God’s Kingdom: Tahta Suci Kerajaan Eden”.

    Jadi, mungkin hanya ada di Indonesia, ”Malaikat Jibril” berkirim surat lengkap dengan kop surat dan tanda tangannya, serta ”berganti tugas” sebagai ”pencabut nyawa.

    Maka, saat ditanya tentang status aliran semacam ini, MUI dengan tegas menyatakan, ”Itu sesat.” Mengaku dan menyebarkan ajaran yang menyatakan bahwa seseorang telah mendapat wahyu dari Malaikat Jibril, apalagi menjadi jelmaan Jibril adalah tindakan munkar yang wajib dicegah dan ditanggulangi. (Kata Nabi saw: ”Barangsiapa diantara kamu yang melihat kemunkaran, maka ubah dengan tangannya. Jika tidak mampu, ubah dengan lisan. Jika tidak mampu, dengan hati. Dan itulah selemah-lemah iman”).

    Ada sejumlah fatwa yang telah dikeluarkan MUI tentang aliran sesat ini. Ahmadiyah dinyatakan sesat sejak tahun 1980. Pada tahun 2005, keluar juga fatwa MUI yang menyatakan bahwa paham Sekularisme, Pluralisme Agama dan Liberalisme, bertentangan dengan Islam dan haram umat Islam memeluknya. Tugas ulama, sejak dulu, memang memberikan fatwa. Tugas ulama adalah menunjukkan mana yang sesat dan mana yang tidak; mana yang haq dan mana yang bathil.

    Tapi, gara-gara menjalankan tugas kenabian, mengelarkan fatwa sesat terhadap kelompok-kelompok seperti Lia Eden, Ahmadiyah, dan sejenisnya, MUI dihujani cacian. Ada yang bilang MUI tolol. Sebuah jurnal keagamaan yang terbit di IAIN Semarang menurunkan laporan utama: ”Majelis Ulama Indonesia Bukan Wakil Tuhan.” Ada praktisi hukum angkat bicara di sini, ”MUI bisa dijerat KUHP Provokator.” Seorang staf dari Perhimpunan Bantuan Hukum dan Hak Asasi Manusia Indonesia (PBHI), dalam wawancaranya dengan jurnal keagamaan ini menyatakan, bahwa:

    ”MUI kan hanya semacam menjual nama Tuhan saja. Dia seakan-akan mendapatkan legitimasi Tuhan untuk menyatakan sesuatu ini mudharat, sesuatu ini sesat. Padahal, dia sendiri tidak mempunyai kewenangan seperti itu. Kalau persoalan agama, biarkan Tuhan yang menentukan.” Ketika ia ditanya, ”Menurut Anda, Sekarang MUI mau diapakan?” dia jawab: ”Ya paling ideal dibubarkan.” (Jurnal Justisia, edisi 28 Th.XIII, 2005)

    Majalah ADIL (edisi 29/II/24 Januari-20 Februari 2008), memuat wawancara dengan Abdurrahman Wahid (AW):

    Adil: Apa alasan Gus Dur menyatakan MUI harus dibubarkan?

    AW: Karena MUI itu melanggar UUD 1945. Padahal, di dalam UUD itu menjamin kebebasan mengeluarkan pendapat dan kemerdekaan berbicara..

    Adil: Mengapa MUI tidak melakukan peninjauan atas konstitusi yang isinya begitu gamblang itu?

    AW: Karena mereka itu goblok. Itu saja. Mestinya mereka mengerti. Mereka hanya melihat Islam itu sebatas institusi saja. Padahal Islam itu adalah ajaran.

    Adil: Apa seharusnya sikap MUI terhadap kelompok-kelompok Islam sempalan itu?

    AW: Dibiarkan saja. Karena itu sudah jaminan UUD. Harus ingat itu.

    Perlu dicatat, bahwa Ketua Umum MUI saat ini adalah K.H. Sahal Mahfudz yang juga Rais Am PBNU. Wakil Ketua Umumnya adalah Din Syamsuddin, yang juga ketua PP Muhammadiyah. Hingga kini, salah satu ketua MUI yang sangat vokal dalam menyuarakan kesesatan Ahmadiyah dan sebagainya adalah KH Ma’ruf Amin yang juga salah satu ulama NU terkemuka.

    Sejak keluarnya fatwa MUI tentang Ahmadiyah dan paham Sepilis tahun 2005, berbagai kelompok juga telah datang ke Komnas HAM, menuntut pembubaran MUI. Salah satunya adalah Kontras, yang kini dikomandani oleh Asmara Nababan. Kelompok-kelompok ini selalu mengusung paham kebebasan beragama. Puncak aksi mereka dalam aksi dukungan terhadap Ahmadiyah dilakukan pada 1 Juni 2008 di kawasan Monas Jakarta, yang kemudian berujung bentrokan dengan massa Islam yang berdemonstrasi di tempat yang sama.

    Dasar kaum pemuja kebebasan untuk menghujat MUI adalah HAM dan paham kebebasan. Bagi kaum liberal ini, pasal-pasal dalam HAM dipandang sebagai hal yang suci dan harus diimani dan diaplikasikan. Dalam soal kebebasan beragama, mereka biasanya mengacu pada pasal 18 Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (DUHAM), yang menyatakan: ”Setiap orang mempunyai hak kebebasan berpendapat, keyakinan dan agama; hak ini termasuk kebebasan untuk mengubah agamanya atau keyakinan, dan kebebasan baik sendiri-sendiri atau bersama-sama dengan yang lain dan dalam ruang publik atau privat untuk memanifestasikan agama dan keyakinannya dalam menghargai, memperingati, mempraktekkan dan mengajarkan.”

    Deklarasi ini sudah ditetapkan sejak tahun 1948. Para pendiri negara Indonesia juga paham akan hal ini. Tetapi, sangatlah naif jika pasal itu kemudian dijadikan dasar pijakan untuk membebaskan seseorang/sekelompok orang membuat tafsir agama tertentu seenaknya sendiri. Khususnya Islam. Sebab, Islam adalah agama wahyu (revealed religion) yang telah sempurna sejak awal (QS 5:3). Umat Islam bersepakat dalam banyak hal, termasuk dalam soal kenabian Muhammad saw sebagai nabi terakhir. Karena itu, sehebat apa pun seorang Abu Bakar ash-Shiddiq, Umar bin Khatab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, radhiyallahu ’anhum, mereka tidak terpikir sama sekali untuk mengaku menerima wahyu dari Allah. Bahkan, Sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq telah bertindak tegas terhadap para nabi palsu dan para pengikutnya.

    Ada batas

    Masalah semacam ini sudah sangat jelas, sebagaimana jelasnya ketentuan Islam, bahwa shalat subuh adalah dua rakaat, zuhur empat rakaat, haji harus dilakukan di Tanah Suci, dan sebagainya. Karena itulah, dunia Islam tidak pernah berbeda dalam soal kenabian. Begitu juga umat Islam di Indonesia. Karena itulah, setiap penafsiran yang menyimpang dari ajaran pokok Islam, bisa dikatakan sebagai bentuk kesesatan. Meskipun bukan negara Islam, tetapi Indonesia adalah negara dengan mayoritas pemeluk Islam. Keberadaan dan kehormatan agama Islam dijamin oleh negara. Sejak lama pendiri negara ini paham akan hal ini. Bahkan, KUHP pun masih memuat pasal-pasal tentang penodaan agama. UU No 1/PNPS/1965 yang sebelumnya merupakan Penpres No 1/1965 juga ditetapkan untuk menjaga agama-agama yang diakui di Indonesia.

    Bangsa mana pun paham, bahwa kebebasan dalam hal apa pun tidak dapat diterapkan tanpa batas. Ada peraturan yang harus ditaati dalam menjalankan kebebasan. Seorang pengendara motor – kaum liberal atau tidak — tidak bisa berkata kepada polisi, ”Bapak melanggar HAM, karena memaksa saya mengenakan helm. Soal kepala saya mau pecah atau tidak, itu urusan saya. Yang penting saya tidak mengganggu orang lain.”

    Namun, simaklah, betapa ributnya sebagian kalangan ketika Pemda Sumbar mewajibkan siswi-siswi muslimah mengenakan kerudung di sekolah. Kalangan non-Muslim juga ikut meributkan masalah ini. Ketika ada pemaksaan untuk mengenakan helm oleh polisi mereka tidak protes. Tapi, ketika ada pemaksaan oleh pemeritah untuk mengenakan pakaian yang baik, seperti mengenakan kerudung, maka mereka protes. Padahal, itu sama-sama menyangkut hak pribadinya. Dalam 1 Korintus 11:5-6 dikatakan:

    ”Tetapi tiap-tiap perempuan yang berdoa atau bernubuat dengan kepala yang tidak bertudung, menghina kepalanya, sebab ia sama dengan perempuan yang dicukur rambutnya. Sebab jika perempuan tidak mau menudungi kepalanya, maka haruslah ia juga menggunting rambutnya. Tetapi jika bagi perempuan adalah penghinaan, bahwa rambutnya digunting atau dicukur, maka haruslah ia menudungi kepalanya.”

    Orang-orang Barat, meskipun beragama Kristen, tidak mau mewajibkan kerudung. Bahkan, karena pengaruh paham sekularisme, banyak sekolah di Barat – termasuk di Turki – yang melarang siswanya mengenakan kerudung. Untuk itulah mereka kemudian membuat berbagai penafsiran yang ujung-ujungnya menghilangkan kewajiban megenakan kerudung bagi wanita.

    Jadi, karena ingin menerapkan paham kebebasan, maka mereka menolak aturan-aturan agama. Konsep kebebasan antara Barat dan Islam sangatlah berbeda. Islam memiliki konsep ”ikhtiyar” yakni, memilih diantara yang baik. Umat Islam tidak bebas memilih yang jahat. Sedangkan Barat tidak punya batasan yang pasti untuk menentukan mana yang baik dan mana yang buruk. Semua diserahkan kepada dinamika sosial. Perbedaan yang mendasar ini akan terus menyebabkan terjadinya ”clash of worldview” dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat. Dua konsep yang kontradiktif ini tidak bisa dipertemukan. Maka seorang harus menentukan, ia memilih konsep yang mana.

    Kaum Muslim yang masih memegang teguh aqidahnya, pasti akan marah membaca novel The Satanic Verses-nya Salman Rushdie. Novel ini sangat biadab; misalnya menggambarkan sebuah komplek pelacuran di zaman jahiliyah yang dihuni para pelacur yang diberi nama istri-istri Nabi Muhammad saw. Bagi Islam, ini penghinaan. Bagi kaum liberal, itu kebebasan berekspresi. Bagi Islam, pemretelan ayat-ayat al-Quran dalam Tadzkirah-nya kaum Ahmadiyah, adalah penghinaan, tapi bagi kaum liberal, itu kebebasan beragama. Berbagai ucapan Mirza Ghulam Ahmad juga bisa dikategorikan sebagai penghinaan dan penodaan terhadap Islam. Sebaliknya, bagi kaum liberal, Ahmadiyah adalah bagian dari ”kebebasan beragama dan berkeyakinan.” Bagi Islam, beraksi porno dalam dunia seni adalah tercela dan dosa. Bagi kaum liberal, itu bagian dari seni dan kebebasan berekspresi, yang harus bebas dari campur tangan agama.

    Kaum liberal, sebagaimana orang Barat pada umumnya, menjadikan faktor ”mengganggu orang lain” sebagai batas kebebasan. Seseorang beragama apa pun, berkeyakinan apa pun, berperilaku dan berorientasi seksual apa pun, selama tidak mengganggu orang lain, maka perilaku itu harus dibiarkan, dan negara tidak boleh campur tangan. Bagi kaum liberal, tidak ada bedanya seorang menjadi ateis atau beriman, orang boleh menjadi pelacur, pemabok, menikahi kaum sejenis (homo/lesbi), kawin dengan binatang, dan sebagainya. Yang penting tidak mengganggu orang lain. Maka, dalam sistem politik mereka, suara ulama dengan penjahat sama nilainya.

    Bagi kaum pemuja paham kebebasan, pelacur yang taat hukum (tidak berkeliaran di jalan dan ada ijin praktik) bisa dikatakan berjasa bagi kemanusiaan, karena tidak mengganggu orang lain. Bahkan ada yang menganggap berjasa karena menyenangkan orang lain. Tidak heran, jika sejumlah aktivis AKKBB, kini sibuk berkampanye perlunya perkawinan sesama jenis dilegalkan di Indonesia. Dalihnya, juga kebebasan melaksanakan perkawinan tanpa memandang orientasi seksual. Mereka sering merujuk pada Resolusi Majelis Umum 2200A (XXI) tentang Kovenan Internasional tentang Hak-hak Sipil dan Politik. Maka, tidak heran, jika seorang aktivis liberal seperti Musdah Mulia membuat pernyataan: ”Seorang lesbian yang bertaqwa akan mulia di sisi Allah, saya yakin ini.” Juga, ia katakan, bahwa ”Esensi ajaran agama adalah memanusiakan manusia, menghormati manusia dan memuliakannya. Tidak peduli apa pun ras, suku, warna kulit, jenis kelamin, status sosial dan orientasi seksualnya. Bahkan, tidak peduli apa pun agamanya.” (Jurnal Perempuan, Maret 2008).

    Apakah kaum liberal juga memberi kebebasan kepada orang lain? Tentu tidak! Mereka juga memaksa orang lain untuk menjadi liberal, sekular. Mereka marah ketika ada daerah yang menerapkan syariah. Mungkin, mereka akan sangat tersinggung jika lagu Indonesia Raya dicampur aduk dengan lagu Gundhul-gundhul Pacul. Mereka juga akan marah jika lambang negara RI burung garuda diganti dengan burung emprit. Tapi, anehnya, mereka tidak mau terima jika umat Islam tersinggung karena Nabinya diperhinakan, Al-Quran diacak-acak, dan ajaran Islam dipalsukan. Untuk semua itu, mereka menuntut umat Islam agar toleran,”dewasa”, dan tidak emosi. ”Demi kebebasan!”, kata mereka.

    Logika kelompok liberal seperti Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) dalam membela habis-habisan kelompok Ahmadiyah dengan alasan kebebasan beragama dan berkeyakinan sangatlah absurd dan naif. Mereka tidak mau memahami, bahwa soal Ahmadiyah adalah persoalan aqidah. Sebab, Ahmadiyah sendiri juga berdiri atas dasar aqidah Ahmadiyah yang bertumpu pada soal klaim kenabian Mirza Ghulam Ahmad. Karena memandang semua agama sama posisinya, maka mereka tidak bisa atau tidak mau membedakan mana yang sesat dan mana yang benar. Semuanya, menurut mereka, harus diperlakukan sama.

    Cara pandang kaum ”pemuja kebebasan” semacam itulah yang secara diametral bertentangan dengan cara pandang Islam. Islam jelas membedakan antara Mu’min dan kafir, antara yang adil dan fasiq. Masing-masing ada tempatnya sendiri-sendiri. Orang kafir kuburannya dibedakan dari orang Islam. Kaum Muslim diperintahkan, jangan mudah percaya pada berita yang dibawa orang fasiq, seperti orang yang kacau shalat lima waktunya, para pemabok, pezina, pendusta, dan sebagainya. Jadi, dalam pandangan Islam, manusia memang dibedakan berdasarkan takwa nya.

    Jadi, itulah cara pandang para pemuja kebebasan. Jika ditelaah, misi mereka sebenarnya adalah ingin mengecilkan arti agama dan menghapus agama dari kehidupan manusia. Mereka maunya manusia bebas dari agama dalam kehidupan. Untuk memahami misi kelompok semacam AKKBB ini, cobalah simak misi dan tujuan kelompok-kelompok persaudaraan lintas-agama seperti Free Mason yang berslogan ”liberty, fraternity, dan egality”, atau kaum Theosofie yang bersemboyan: “There is no religion higher than Truth.” Jadi, kaum seperti ini punya sandar ”kebenaran sendiri” yang mereka klaim berada di atas agama-agama yang ada. [Depok, 13 Juni 2008/www.hidayatullah.com]

    Catatan Akhir Pekan [CAP] Adian Husaini adalah hasil kerjasama antara Radio Dakta 107 FM dan http://www.hidayatullah.com

    [—-COMMENT HERE—-]

elektronik sigara