Otupis

Sadar ataupun tidak bukanlah sesuatu hal yang penting untuk diperdebatkan lagi . Namun kenyataan dari sebuah sistem yang menghasilkan pemuda-pemuda Indonesia pelaku serta agen-agen perubahan dengan pola pikir hasil pendidikan sekuleristik adalah sebuah ‘tragedi’ yang tak bisa dipungkiri .

Bagaimana tidak bisa disebut tragedi bila semua orang hanya mengenal paham ‘materi dan eksistensi diri sendiri’ . Mereka abai kepada kepedulian antar kepentingan sesama hingga menutup mata dan telinga bahwa bumi / planet yang kita huni ini juga punya hak untuk dirawat .

Semua orang berdesakan dalam loket dan ruang usaha mengejar materi dan harta .

Dokter nyari duit , saintis nyari duit , tekhnokrat nyari duit , polisi nyari duit , wakil rakyat nyari duit / hakim / jaksa / pengacara sampai banyak ulama dan kyaipun nyari duit berjualan ayat .

(tambahan: kalo anda kyai maka sah dan boleh juga punya istri lebih dari satu , kalo anda bukan katagori kyai maka silahkan menghadap dan berurusan dengan pengadilan agama)

Pengertian fasos dan fasum juga benar-benar mirip ungkapan sebuah puisi lama “jauh dimata dekat dihati” , yang artinya cuman bisa dirasa-rasakan saja namun boro-boro tersentuh wong dimata saja sudah jauh .

Saya ngga mau menyebut yang cuman satu atau dua orang karena bisa tendensius , seperti presiden dan wakil presiden misalnya (*hehe disebut juga*) . Benarkah mereka juga nyari duit ? saya ngga begitu yakin , karena duit mereka berdua tentunya sudah cukup banyak dan ngga perlu mencari lagi .

Nama profesi serta jabatan apa yang sekarang bisa dikatagorikan tidak nyari duit ? Maaf , mungkin memang masih ada satu ataupun dua namun sungguh malang dia tenggelam dan ambles ditelan hingar-bingar pesona berhala .

Tidak malu sedikitpun jugakah kita pada kaca dikamar mandi yang setiap hari setia menyapa wajah kita sendiri ?

Atau kalau memang belum terasa malu cobalah letakkan kaca disekitar kita saat kita melakukan ibadah lima waktu , atau sepulangnya dari gereja atau dimana saja . Lalu lirik sejenak raut muka kita disana … adakah terasa hawa munafik yang muncul dari dalam sana ?

Sebegitu yakinkah kita bisa mengejar dan meraih cita-cita dengan menempuh perjalanan atau sebuah proses lewat cara dan metode seperti yang terjadi saat ini ?

Dan bila terbukti disuatu hari nanti , kita “gagal sebagai sebuah Bangsa”.

Sebegitu bodohkah semua orang hingga tak ada satupun yang mampu untuk menggerakkan sebuah mesin perubahan yang sesungguhnya diharapkan .

Benarkah dugaan kita semua bahwa jabatan presiden sebagai ketua lembaga pimpinan tertinggi di negara ini selalu akan kesulitan mengatur ‘kaki-kakinya dan tangan-tangannya’ sebagai instrumen mesin perubahan , karena mereka (perangkat-perangkat tersebut) “bagaikan” mata rantai berbagai kelompok ‘mafia politiking’ yang memiliki bargaining posisi yang amat tinggi . Yang maksudnya adalah siapapun presidennya akan dihadapkan pada kondisi dilematis yang serupa .

Mengapa menunggu begitu lama untuk melakukan operasi ‘amputasi’ bila kita tau sebagian organ tubuh kita sudah menderita serangan penyakit yang berbahaya .

Kita rakyat pasti mendukung tindakan revolusioner yang diperlukan , menunggu apa lagikah dia?

ah.. koq saya seperti mengharapkan hanya jabatan dan posisi presiden yang mampu merubah suasana . Bukankah kunci semuanya ini ada pada kemauan masyarakatnya sendiri , seperti kata-kata bijak yang sering dilontarkan oleh para budayawan kita.
Kalau begitu masyarakatnyalah yang sakit , lalu siapakah dokter yang sebenarnya mampu menyembuhkan penyakit masyarakat ini .

Jangan-jangan dipikir dokternya ada disetiap ATM mereka , begitu penuh merasa sehat walafiat , disaat yang berlawanan apalagi kartu kredit sedang tulalit maka terasa jantungan .

makdikipret!

Padahal kebanyakan dari kita saat ATM dianggap ‘healthiest’, yang dibeli juga didominasi oleh kebutuhan-kebutuhan yang konsumtif hasil bujuk rayu media-media iklan liberal . Yang notabene adalah barang-barang import yang semakin memperpanjang deretan item untuk menjadi beban tambahan yang tak ada habis-habisnya guna melengkapi kebutuhan pokok yang sudah ada .

Hidup orang Indonesia dipacu untuk menjadi semakin bertambah kompleks karena selalu merasa belum sempurna bila tidak ‘up to date’ sesuai anjuran iklan-iklan tersebut . Sementara benteng pertahanan masyarakat yang namanya lembaga konsumen cenderung hampir tak berkutik menghadapinya .

makdikipret lagi!

About the Author

Bukan jurnalis bukan pejabat bukan juga politikus apalagi tentara....wong cuman seniman. Ibarat cermin bagi elok rupa maupun cermin bagi buruk rupa. Jangan membaca tulisan saya bila tampilan buruk rupa anda enggan dibaca.

One Response to “ Otupis ”

  1. hahahaha..mas jsop , madikipretnyab wuenak tenan.
    Imbuh pisan’kas mas..

    Makdirabit! (makdikipret nya udah abis diambilin rumpun seberang)

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.