pelecehan produk budaya

mb

Pemerintahan yang tak memaknai peran Kebudayaan sebagaimana semustinya , adalah sistem pemerintahan yang hanya memahami kebudayaan sebatas ‘budaya/perilaku’ yang hanya bertugas melahirkan produk2 kreatif bagi suply industri2 ekonominya saja . Produk2 tersebut hanya akan diletakkan dalam bingkai perdagangan maupun promosi bagi dunia ke-pariwisataan belaka.

Pemerintahan yang seperti itu selalu abai terhadap kebutuhan rohani dan ruang2 kreatif , bagi bekerjanya sistem ber-kebudayaan sebagai ‘subyek’ , yang diperuntukkan bagi terciptanya media ber-interaksi antar manusia didalam sistem ber-masyarakat itu sendiri secara menyeluruh.

Bagaimana mungkin mengharapkan lahirnya produk2 budaya yang berkualitas secara kontinyu , bila tak melindungi bahkan tak peduli kepada lingkungan yang bisa membangkitkan etos kerja kreatif maupun gagasan2 serta terobosan budaya yang original dan baru lagi.

Pemerintahan yang seperti itu , hanya menganggap produk warisan2 tradisional sebagai warisan budaya masa lalu yang sudah ‘mati’ dan selesai . Lalu sekedar menghormatinya sebagai karya cipta adi-luhung masa lalu yang harus dilestarikan , tanpa perlu diberikan ruang layak agar bisa terus dikembangkan oleh masyarakatnya sendiri sesuai tuntutan peradaban dan jamannya yang baru lagi . Alih-alih masyarakatpun cenderung secara perlahan melupakan , entah karena bosan atau bahkan sudah dianggap ketinggalan jaman .

Konsentrasi pemerintahan semacam itu hanya sebatas bagaimana ‘melindunginya’ agar tetap bisa dijual atau dengan pemahaman agar bisa ditukar dengan nilai2 secara material . Jaman terus bergerak maju , demikian pula dengan budaya-perilaku … semua orang dimuka bumi ini menuntut sesuatu yang baru lagi , termasuk produk2 budaya2 nya .

Dan ketika produk budaya lama tersebut kurang mendapat ‘atensi’ seperti di-masa2 lalu, karena berbagai unsur dan faktor ‘kekinian’ yang dianggap tak memadai lagi … maka pemerintahan semacam itu cenderung menelantarkan begitu saja produk2 masa lalu tersebut dan tak menggubris apakah dia akan tenggelam dan mati kemudian karena ditelan jaman .

Namun ketika nilai2 material tersebut di-usik oleh ‘orang lain’ , pemerintahan semacam itu bagaikan sekelompok kambing bandot yang kebakaran jenggot , yang se-konyong2 merasa harga dirinya dilecehkan dan dihina . Mereka sendiri lupa , bahwa penghinaan2 serupa sudah mereka lakukan secara se-mena2 , terhadap ruang2 ber-kebudayaan diantara warga masyarakatnya sendiri … ruang2 yang kondusif bagi berseminya benih2 yang akan menyirami kearifan2 lokal masyarakatnya , yang kemudian akan berwujud menjadi produk kebudayaan yang akan mencerminkan kualitas peradaban bangsanya yang baru lagi .

Produk kebudayaan yang maju dan modern , adalah berlanjutnya produk budaya masa lalu yang terus berkembang bergerak maju mengejar kekinian-nya .

cis..! tak tahu malu , rupanya

About the Author

Bukan jurnalis bukan pejabat bukan juga politikus apalagi tentara....wong cuman seniman. Ibarat cermin bagi elok rupa maupun cermin bagi buruk rupa. Jangan membaca tulisan saya bila tampilan buruk rupa anda enggan dibaca.

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.