Retorika_Dangkal
1.Rakyat bukan memilih karena mentereng-nya jaket seragam partai ; betul..karena jaket tergantung tukang jahit dan designer-nya.
2.Rakyat bukan memilih karena baliho yang berderet di-jalan raya ; betul..karena itu hanya membodohi selera .
3.Rakyat bukan memilih karena bisa main musik ; Nahh…ini yang keliru dan terdengar asal ngomong serta semakin terukur kadar kualitas yang ngomong .
Musik dan Kesenian lain-lainnya adalah representasi dari salah satu unsur Kebudayaan sebuah bangsa . Dan lagipula semakin orang tersebut berbudaya semakin bisa ditengok perilaku kepedulian serta sensitivitas-nya pada masalah-masalah sosial kemasyarakatan-nya.
Bila ada tokoh-tokoh ber-politik dengan menggunakan salah satu atribut diatas , maka seyogyanya kita pahami bersama bahwa mereka ingin dipandang sebagai orang yang cukup berbudaya .
Musik itu sendiri terbagi-bagi segmentasi serta kepentingan-nya , secara sederhana bisa kita bedakan antara musik hiburan dan musik sebagai media pencerahan . Musik hiburan jelas diwakili oleh kepentingan industri dengan barisan anak baru gedenya . Musik pencerahan dihuni oleh orang-orang yang sudah menginjak dewasa dan sudah berurusan dengan kebutuhan kehidupannya serta mengerti persoalan masyarakatnya.
Repotnya , dialam globalisasi sekarang ini yang muncul dan mencuat hanyalah musik sebagai media hiburan pelipur duka lara . Hingga saat tokoh-tokoh politik tersebut ingin menggunakan issue budaya ..yang terlihat hanya barisan politikus dengan ‘atribut ABG’ yang maksa . Saya sebut maksa karena sama sekali nggak ‘mecing’ , ada capres nyanyi dengan anak muda abg apalagi mendendangkan lagu cinta …., alamaaakkk…!
Namun memahami & men-generalisir musik seolah-olah hanya suara terompet ABG dan industri hiburan semata juga sebuah kekeliruan yang cukup fatal . Apalagi hal tersebut keluar dari mulut seorang yang bisa kita sebut sebagai salah satu pemimpin bangsa .
Kalau level pimpinan-nya saja sudah seperti itu kadar dan kualitasnya ..no wonder kalau masyarakatnya juga akan semakin bodoh dibuatnya .
Jangan karena memang suaranya sendiri false dan nggak bisa nyanyi apalagi ngga ngerti musik maka menganggap musik sebatas dunia k’lenengan yang acapkali kita temui disetiap panggung dan layar televisi semata .
no peace ah!

















[ini gua,bapaknya..]
yock! ini menohok..langsung ke ulu hati!
Teruslah kritis dan mengkritisi dunia yang sakit.
Rasanya kita tidak bisa rela gitu saja , politikus-politikus memamakai sembarangan cara dan menginjak-injak budaya.
Bener! harus ada yang terus berusaha bicara , jangan ikut-ikutan jadi diam dan menerima saja , terus berjuang bung dijalur dan wilayahmu sendiri!
Selamat berjuang!
Yo’i bos