Trotoar

pemulung

Trotoar kehidupan tak berbatas dan tak bertepi , dia lari cepat dan hanya melambat dipersimpangan . Tak akan berhenti diujung jalan selama masih berlangsungnya sebuah peradaban .

Bagi petani Indonesia trotoarnya hari ini meratapi nasibnya , terpaksa harus jual sawah yang cuman sepetak demi kelangsungan hidup keluarganya .

Pertanyaan sederhana dari mereka yang tak punya kemampuan menyusun kata , tapi hanya bisa dirasakan dalam hatinya , kepada anda atau mungkin kepada  dewan perwakilan yang konon mewakili keberadaan mereka , atau bahkan juga kepada Presiden Republik Indonesia yang semestinya bertugas melindungi juga.

(Benar ngga sih? geoekonomi dan geokultur sudah termuat dan ter-implementasi dalam ruang ideologis berpikir para penyelenggara  negara yang bertugas menata sistim administrasi bagi bangsa Indonesia?)

atau hanya baru sebatas catatan harian yang dibayangkan dalam angan-angan saja ?  koq sampai banyak petani menjadi semakin miskin hingga terpaksa menjual sawah ladangnya , lha orang Indonesia modal keunggulan utamanya  (secara geografis) bukankah bercocok tanam ..

Ketimpangan sosial menciptakan jurang yang semakin curam..

Semakin banyak dan lazim orang kaya yang merasa sah-sah , mempertontonkan hartanya ditengah kerumunan kaum jelata .”Resiko orang bodoh yang malas bekerja” , kilahnya .

Karena kurang berpendidikan .. (benar ngga sih? hak untuk menempuh pendidikan dan hak mendapatkan pekerjaan guna mencapai kesejahteraan , juga sudah dimiliki oleh mereka?)

Bukankah setiap warga negara punya hak ber-kesempatan yang sama , guna menggapai hidup sejahtera seperti mereka-mereka yang ada diatas tersebut ..

Potensi kekerasan karena berbagai kesenjangan dan kecemburuan sosial , semakin mendorong perilaku anarkis pada diri setiap orang . Krisis yang paling menyedihkan adalah rontoknya rasa solidaritas terhadap sesama , sehingga realitas yang ditimbulkan adalah pembenaran sempit atas nama hak-hak asasi dan ‘demokrasi’ , yang semua itu ternyata teramat jauh korelasinya dengan impian masyarakat yang adil dan beradab

Kita semua adalah masyarakat campuran dari bangsa-bangsa yg berseliweran , tak ada ke’sahih-an’ apapun untuk dijadikan dasar alasan mengklaim bahwa etnis tertentulah penduduk asli di Indonesia , terkecuali siapakah yang terbukti lebih lama bermukim di bumi Nusantara untuk membangun peradaban manusianya. Karena itu hilangnya rasa kebersamaan adalah barisan silet tajam yang sedang menunggu mangsa didalam sekat-sekat ruang kegelapan.

Peristiwa kelabu dalam sejarah kita “Mei 98″ juga tidak menjadikan kita tumbuh menjadi dewasa. Memburu dan memperkosa minoritas turunan “Tionghoa” sebagai sasaran pelampiasan ‘dendam kesenjangan’ tidak juga menjadi pelajaran penting bangsa Indonesia . Semua issu yang menyesatkan menjadi mudah untuk disulut dan dibakar , karena toleransi bagi kehidupan bersama sudah semakin tipis dan tersingkirkan .

Orang keturunan cina di-permasalahkan menjadi biang keladinya , padahal fakta-fakta monopoli dan oligarki yang terjadi disebabkan karena ulah dan kelakuan “buruk moral” segelintir pejabat negara yang ber-kolusi kong-kalikong dengan segelintir kelakuan buruk orang-orang keturunan ‘cina’ yang rakus saja . Namun itu semua , seperti sejarah yang ditulis diatas air (meminjam istilah Rendra) . Ditoreh namun tak bisa terbaca apalagi terekam dalam ingatan  .  Jangan-jangan memang benar suara burung-burung yang beterbangan di angkasa “Malay short memory” demikian Mahathir pernah berkata juga .

Berdiam dirikah saja , disaat kita merasakan kecenderungan serta gejala situasi yang menjurus hampir serupa , dihadapkan pada kondisi kesenjangan sosial yang bisa membuat kita “tersandung terjungkal jatuh” kesekian kalinya.

==

Saya sedang membuka pikiran , bila mungkin kita juga bisa bicara tentang hal-hal yang menurut saya menjadi kipas angin yang menghembuskan gas beracun , diantara kita sebagai orang Indonesia. Saya tidak percaya  kita akan selamanya mendekam terkungkung di ruang ”primordialisme” yang cupet sempit atau malahan bernuansa primitif purbakala .

Masih hangat dalam ingatan saya , semasa kecil saya . Saya dibesarkan dalam sebuah keluarga yang sangat toleran kepada pergaulan antar etnis dan kultur. Ayah saya asli Jawa (malang) demikian juga Ibu saya (magelang). Kami sekeluarga banyak mempunyai sahabat dari etnis Tionghoa (saya tidak sebut satu persatu karena kesulitan melafal spellingnya, daripada salah lebih baik tak usah ditulis)

Sepanjang memory dan ingatan saya hingga saya dewasa , perilaku serta rasa solidaritas mereka tak kalah dengan etnis yang lainnya atau bahkan banyak yang jauh melebihi-nya . Sensitivitas mereka kepada tetangga maupun pada masyarakat umum lainnya sungguh meninggalkan catatan tersendiri didalam benak saya.

Hingga diusia 52 ini , kalau saya berkunjung ke Malang atau daerah serta kota-kota lainnya , masih nampak dan terasa kehangatan serta ketulusan perilaku dalam bahasa tegur sapa mereka .

Apa yang sebenarnya terjadi di kota-kota besar seperti Jakarta dan lainnya..? Saya seringkali “ngga ngerti” heran , dan akhirnya berujung diumpatan dalam hati yang kotor (dasar cina..!) Padahal setelah itu saya merenung…mengapa saya masih berulang kali melakukan umpatan-umpatan “sara” seperti itu?

Artinya , inilah perilaku masyarakat yang bhineka / beragam yang tak pernah diteladani atau diberikan contoh yang baik bagaimana seharusnya merumuskan secara tuntas hak-hak dan kewajiban kita sebagai warga negara Indonesia. Secara lokal bangsa-bangsa yang bergabung menjadi Indonesia memang tidak perlu diajarin bagaimana toleransi itu seharusnya dilakukan karena masing-masing lokalitas sudah memiliki kearifannya sendiri-sendiri dan itu sudah dibuktikan oleh sejarah mampu membuat mereka semua hidup berdampingan dan saling menghormati antar satu dengan yang lainnya .

Namun saat memproklamirkan diri sebagai sebuah kesatuan masyarakat yang namanya masyarakat Indonesia , kami perlu diteladani dengan contoh baik dan nyata oleh para pemimpin bangsa dan penyelenggara negaranya .

20 Responses to “ Trotoar ”

  1. Semakin jauh jalan yang kita tempuh semakin jauh pula kita meninggalkan jejak. Jejak yang menyisakan kenangan , tentang berbagai cerita suka ataupun cerita yang tidak harus suka.

    Ada masa kecil , saat kita berpikir tentang gembiranya bermain layangan atau sepeda. Ada masa remaja , bertemu dengan kawan baru dengan ragam watak dan sifat2nya , saat2 puber dimana perasaan cinta mulai menggoda menggangu tidur malam kita .

    Menjadi dewasa adalah masa dimana kita dihadapkan pada kenyataan . Kenyataan yang lebih banyak tak sesuai dengan harapan sebelumnya.

    Kita merindukan jejak masa kecil , merindukan jejak di-masa2 remaja hingga kita menjadi dewasa , kita merindukan berkumpulnya jejak-jejak yang pernah kita lalui .

    Namun betapa tidak sesederhana itu , sungguh sulit menelusuri masa lalu . Sebab masa lalu tak pernah meningalkan bekas dan jejak yang tersambung menuju jalur memori otak kita .

    Karena pohon beringin ditengah lapang yang dulu besar rindang kini diganti dengan bangunan angkuh berdiri mengangkang . Gedung kantor pos tempat semasa kecil membeli perangko , untuk dikoleksi dalam sebuah album kebanggaan , kini lenyap dan berubah menjadi sebuah kotak berwarna-warni seperti bungkus kado .

    Benarkah semua bangunan tua , ruang-ruang publik terbuka dan sesuatu yang khas mempertegas ciri suatu tempat , yang mengantarkan kita pada memori/kenangan lama tak ada gunanya , serta tak ada relefansinya bagi kepentingan hari ini dan bagi masa depan ?

    Ada seorang kakek tua dalam sebuah photo bergambar , bercerita tentang masa lalu kepada generasi anak dan cucunya , duduk bersama disebuah tempat yang sama , bangunan yang sama , bahkan kursi kuno disebuah ruang yang sama .

    Interaksi berbagai rekam jejak “kehidupan” mampu mereka jaga . Benang merah keterikatan antar generasi masih berjalan secara sempurna .Masing-masing generasi saling berbagi informasi dan rencana , sehingga langkah kaki hari ini menuju hari esok tidaklah gelap gulita seperti apa yang dihadapi sekarang ini .

    Kita memang lengah dalam menyikapi segala sesuatu yang berhubungan dengan sejarah , lalu siapakah pihak yang harus dipersalahkan ? atau memang tak ada gunanya mempersoalkan?. Lalu bagaimana caranya merencanakan satu tujuan , tanpa bekal informasi dan pengalaman masa lalu yang pernah dilewati sebelumnya ?

  2. Ada teman yg sering ke Eropa pernah ngomong :
    Masyarakat Asia itu sangat dinamis, sedemikian dinamisnya sampai2 tidak sepenuhnya ‘care’ dengan tinggalan masa lalu .
    Dan ini berbeda dengan masyarakat Eropa …….
    Atau mungkin kita kesulitan untuk memaknai kata “modern” ?

  3. aduh.. kena aq ama mas Indra.
    dimana-mana cagar budaya kita rontok digantikan mall-mall dan ruko.
    di sini..kotaku..yang dulu dikenal sebagai kota dingin, lalu berpredikat Makobu (Malang Kota Bunga), sekarang telah menjadi Malang Kota ruko.
    Orang-orang pongah.., berambisi membangun ruang ekonomi semu. Seolah-olah dan seolah-olah. Menghitung dengan matematika Togel, memanfaatkan kesempatan modal yang entah dari mana.
    romantisme kota ini yang tersimbolkan dengan bangunan-bangunan kolonial berestetik tinggi luluh, menjadi seragam.

  4. Mungkin benar kata Mas Yockie tempo hari, Pemerintah Pusat ataupun Pemda tidak pernah melibatkan kalangan budayawan u/ menjalankan roda pemerintahan, jadinya ya…seperti ini bubrah nggak karuan.

    Saya ini lahir dan besar di Kebayoran-Baru Jkt Sel dan saya merasakan kenyamanan pd th2 60-an. Saat itu Kawasan hijau, kawasan pasar, kawasan sekolahan, dll sangat tertata sempurna.
    Perlu diketahui Kebayoran-Baru adalah kota yg didesain setelah 1945, mungkin masih melibatkan orang2 Belanda dalam perencanaannya. wah…nyaman sekali tinggal di daerah situ.
    Sekarang semuanya tinggal jadi kenangan manis ……………!!

  5. kenapa kalo “wong tua” mesti dianggep kuno ? gak modis, kolot..
    apakah hanya dinilai dari segi performance aja..?
    kalo gak ada org tua..kita kan juga gak bakal ada di dunia ini..

    di Indonesia ini lebih suka bangun mall dan bangunan modern, daripada menyelamatkan cagar budaya..
    di Kotagede aja joglo-joglo udh dijual, apalagi yg kena gempa..mana ada yg mau merenovasi..
    kenyataannya pada 6 Juni 2007 di World Monuments Fund – New York headquarters, Kotagede , Yogyakarta, Indonesia diumumkan sebagai salah satu dari 100 Most Endangered Sites.
    Lho kok malah org luar yg peduli ya?? wuallahh

    ~“ambisi kaum posmo” , mereka sering lupa bahwa nasi yang terlanjur jadi bubur cuman bisa dijadikan bubur yang enak saja.
    Tapi mereka ingin lebih , bubur dibiarin semingu lalu dipaksain supaya jadi sop bubur .. ya basi..noo , sudah tau basi masih maksa pengen dibilang “enak koq” ini sesuatu yang baru ..”kamu belum biasa aja..dst”
    Basi is Basi , thats’all

  6. Saya pernah tinggal di Panglima Polim V (ikut tante saya) th.69’an
    Pada masa itu saya merasa semuanya biasa-biasa , karena sebelumnya saya pernah tinggal di Balikpapan , yang arsitektur kotanya dibangun oleh Belanda (perusaaan minyak , saya lupa namanya) caltex / shell atau apa ya (?)

    ~

    Di P.Polim memang tak jauh beda , tak ada sampah berserakan , tak ada rumah dengan pagar-pagar bagaikan benteng pertahanan perang betul kata mas Indrayana ..kenangan manis..( anda masih ingat radio amatir GB88) ?

    ~

    Tetapi hari ini kalau saya bandingkan , tidak usah jauh-jauh , pada saat saya mengunjungi rumah Sawung Jabo di kota Sydney Australia . Saya langsung teringat masa kecil saya di Jakarta , wilayah hunian yang nyaris sama dengan P.Polim saat saya disana pada tahun 1969 !

    ~

    Dan saat saya kembali ke Jakarta , lalu melongok kembali Panglima Polim yang tercinta … kini sudah jauh dari sebutan hunian yang berbudaya . Hutan beton yang congkak sudah merubah wajah bangunan tempat tinggal manusianya .

    ~

    Saya lebih heran lagi … ada yang mengatakan kita berpikir demikian karena sudah masuk golongan orang tua . (?)
    Malunya saya..

  7. Kayaknya kalo kita sudah berada di “zona nyaman” kita ogah terusik dan ogah menjelajah zona lain..

    Solidaritas hanya menjadi ungakapan semu..karena kita terkadang solider pada sesama saja, maksudnya sama agamanya, sama sukunya, sama kayanya, sama untungnya, sama golongannya, dan masih banyak mencari kesamaan.
    Karena kalo solider pada yg berbeda itu kan merugikan, dan gak elite gito.. Ataupun ada kepentingan dan agenda tertentu di balik solidaritas yg ditunjukan di media.

    Apakah hal in isudah menjadi kebiasan dan budaya kita ya bung Yockie?

  8. Berbagai persoalan dilematis yang mengidap dalam benak mayoritas orang Indonesia adalah informasi tentang masa lalu yang dipahami secara parsial atau sepotong-sepotong .
    ~
    Sebuah contoh yang paling mudah untk dijadikan entry point guna memahami persoalan … , lewat pendekatan musik misalnya:

    Tadi malam saya baru saja berbincang-bincang dengan kelompok musisi muda , bersama mereka saya saling berpendapat dan berargumentasi tentang perkembangan dan arah musik yang kami tekuni masing2. (khususnya di Indonesia)
    ~
    Menurut anak muda sekarang , kebanyakan dari mereka merasa “terintimidasi” bila ada lagu-lagu yang bernafas protes atau memuat hal-hal yang berbau politis , karena politik itu busuk dan sebagai orang seni mereka merasa “jijik” , kemudian wajar kalau harus menghindar kan dirinya sejauh mungkin .
    ~
    Bagi mereka fungsi bermusik adalah bagaimana si musisi itu sendiri menghargai seni dan merasa punya kepentingan untuk menyampaikan ekspresi suara hatinya . Kalau dia ingin bercerita tentang masalah cinta , ya itu adalah hak azasinya yang tidak boleh dipungkiri keberadaannya dsb dsb .
    ~
    Jadi pembenaran diatas itulah yang dijadikan sandaran , mengapa koq mereka malas , kalau diminta meng-apreasiasi lagu-lagu dengan nafas protes .
    ~
    Ya..mengharukan , sekaligus juga menyedihkan .
    Ini memang masalah dunia musik , tetapi juga mencerminkan secara lebih jauh bagaimana mereka memahami hidup serta berbagai persoalan lainnya secara terpisah-pisah tadi .
    ~
    Musik adalah sebuah bahasa ungkapan yang universal dan ditemukan serta digunakan manusia jauh sebelum abad pertengahan guna memediasi berbagai kepentingan-kepentingan berkomunikasi yang dihadang oleh keterbatasan bahasa-bahasa lokal yang berbeda-beda .
    ~
    Musik juga bahasa yang digunakan dalam berbagai upacara ritual yang dianggap bisa menjadi jembatan bagi manusia untuk dapat berkomunikasi kepada Sang Maha Penciptanya .
    ~
    Musik juga digunakan oleh para penyebar agama , agar lebih mudah bagi masyrakat yang tak pernah mengenal Tuhannya menjadi mengerti tentang nilai-nilai moral , ahklak , yang selalu diajarkan oleh agama apa saja .
    ~
    Jadi musik bukan sebuah media kesenian bunyi-bunyian yang berdiri sendiri.
    ~
    Lalu bila orang dijaman sekarang mengungkapkan argumentasi seperti yang saya ceriterakan diatas , maka jawaban yang paling cepat dan sederhana , ya…kenaifan itu sendiri .
    ~
    Setelah saya jelaskan panjang lebar tentang fungsi dari musik sesuai perjalanannya , yang tak lepas dari perjalanan manusia dari jaman purba (bar-bar) , hingga jaman yang lebih beradab , maka musik adalah sebuah media yang memuat berbagai jenis serta aspek-aspek tentang nilai kemanusiaannya itu sendiri . Disana ada aspek hukum , aspek sosial ,aspek politik dan aspek ekonomi , makanya seperti dalam posting saya beberapa waktu lalu , pernah saya katakan bahwa peranan Seni hampir-hampir sederajat dengan peranan Agama . Mengapa? Karena dua-duanya bersandar pada satu nilai yang sama “Kesucian” , tak ada keindahan seni tanpa muatan kesucian itu sendiri .
    ~
    Musik bisa digunakan sebagai media hiburan , juga cinta …Tetapi musik bukan hanya itu saja , tidak cukup untuk memahami musik hanya sebagai teman hidup sehari-hari untuk menemani kita bergelut seranjang dengan persolan cinta .
    ~
    Setelah saya jelaskan panjang lebar … ,
    ya..cuman manggut-manggut saja …….
    Saya ndak tau.. itu bermakna paham … atau “ora dong bllaass.”

  9. Tulisan ini saya susun untk menyambung topik tulisan saya diatas , untuk memberikan penjelasan yang tuntas tentang maksud saya , agar tidak menimbulkan polemik baru yang membingungkan .
    ~
    Kita semau tau bahwa sebagai orang Indonesia semenjak pasca peristiwa Gestapo kita tidak pernah mendapatkan pelajaran masa lalu secara berkesinambungan . Kita juga tau bahwa dijaman orba banyak fakta-fakta sejarah yang diabaikan atau kalau ditulispun hal tersebut semata hanya karena kepentingan politik praktis yang tidak segan-segan membengkokkan kenyataan .
    ~
    Bicara tentang dialog dua generasi antara saya dan kelompok muda yang saya bahas diatas , semakin memperkuat pemahaman saya tentang “peta” permasalahan yang tergambar di Indonesia .
    ~
    Kenaifan mereka tentang perilaku hari ini dan hubungannya dengan sejarah masa lalu , apakah bisa juga dijadikan tolak ukur bahwa mereka ‘mbalelo’ terhadap kenyataan hidup?
    Apakah berarti setiap anak muda sekarang harus membuka buku sejarah (*bukunya yang mana?*) , agar langkah serta mind set mereka seperti apa yang diharapkan generasi-generasi seniornya ?
    ~
    Disinilah letak “kebingungan” yang selalu menjadi lingkaran setan yang membuat kita sering berputar-putar ditempat yang sama.
    ~
    Semasa saya berusia remaja , sayapun tak pernah punya waktu untuk memiliki kesadaran sendiri guna memahami sejarah musik dan asal-usul nya secara detail. Sayapun disibukkan oleh berbagai aktivitas kreativitas yang padat , pragmatis sesuai pola pikir kaum remaja layaknya . Saya juga tidak pernah diajarkan sebuah aturan main dalam berekspresi dalam sebuah masyarakat , mana yang etis untuk dijalani lebih lanjut dan mana yang tidak etis dan tidak pantas , serta harus dihindari dengan segera.
    ~
    Generasi sekarang dihadapkan pada problematik persoalan yang relatif hampir sama dengan problematik yang pernah dihadapkan pada saya ditahun-tahun saya masih remaja tersebut .
    ~
    Artinya ada sebuah kesalahan yang secara sistimatik berlangsung terus menerus , dan mem-berondong pikiran-pikiran dalam benak manusia untuk memotivasi perilaku pesimistis , skeptis atau bahkan cenderung bisa menjadi asosial .
    ~
    Jangan bebankan persoalan sejarah atau abad masa lalu yang bisa membuat saya hidup hanya untuk duduk menghabiskan waktu membaca buku , dan kehilangan waktu untuk berpikir bergerak maju serta melakukan segala sesuatu yang konkrit menuju masa depan: “mungkin demikian apa yang dibenak saya ketika saya remaja”
    ~
    Demikian juga hendaknya kita memahami persoalan anak muda sekarang . Jangan menggurui mereka karena kita beranggapan bahwa kita lebih pandai serta menganggap mereka lebih bodoh.
    ~
    Dosa sejarah ini bukan kita yang menciptakan , tapi para pelaku yang kita percayakan serta kita tunjuk untuk mengelola Negara yang harusnya segera “tanggap” , untuk segera membenahi agenda kerja demi mensejahterakan masyarakatnya . Sejahtera juga bukan hanya urusan ekonomi semata , namun juga sejahtera dalam memfasilitasi pendidikan ilmu bagi otak masyarakatnya .
    ~
    Ini sudah sangat jelas dan konkrit…jangan lagi asal ngomong saja..!
    Dengan berlindung dibalik gelar-gelar akademis yang spektakuler , yang beruntut mengawali nama-nama mereka.

  10. Kalau th 1969 Mas Yockie pernah tinggal di kawasan Panglima Polim. Wah….saat itu sebenarnya kawasan blok M sudah mulai berubah.
    Tempat saya nonton wayang wong/ketoprak sudah digusur …………..!
    Puncak kenyamanan tinggal di Keb.Baru yaitu sebelum G30S.
    Setelah itu atas nama “modernisasi” semua berubah sangat cepat.
    Mungkin ‘land mark’ Keb.Baru tinggal berupa beberapa rumah dengan arsitektur yg khas di Jl. Pakubuwono seberang Pom Bensin.

  11. hai mas mas…
    dari sekian yg aku baca diatas,aku hanya bisa menyimpulkan:
    Ibarat suatu tubuh,antara Roh dan Kedagingan (duniawi) saling bertentangan.
    Aku ga abis fikir kenapa bangsa ini kehilangan kepribadian?dan cilakanya begitu gampang untuk hilang,seperti saputangan hilang ditangan sang pesulap.
    maaf mas mas…aku mungkin ngawur,tp rasanya lbh ngawur mereka,sampe aku pernah berkhayal secara teroris: apa perlu negara ini di bom kayak hiroshima aja,ancur lebur,terus di bangun lagi dengan citra,semangat,generasi dan roh yg baru?
    krn sebetulnya kita itu udah frustasi (paling gak di alam bawah sadar kita)bagaikan sebuah perush yg karyawannya banyak,tp ga ada hasil apa2..akhirnya dana ops ikutan tergerus untuk menghidupi karyawannya.
    Sakit……!

    ~beberapa puluh tahun lalu , dilemasi persoalan seperti yang kita hadapi sekarang , memang hanya bisa diselesaikan dengan tangan besi . (baca:revolusi sosial) Namun sesuai perkembangan peradaban , manusia diwajibkan lebih menggunakan akal dan nurani untuk menyelesaikan berbagai konflik . Disini kita “macet” .

  12. Mas Iwan,
    Ada seorang tokoh budaya yang saya kagumi , saya tidak mengenal beliau secara pribadi namun lewat tulisan-tulisannya , beliau adalah salah satu figur dalam masyarakat yang saya kagumi .

    Beliau menulis di harian kompas hari ini judulnya:
    “HUKUM PROGRESIF DIZAMAN EDAN” , kegelisahan anda akan terwakili disana .

    Oh iya, beliau bernama Satjipto Rahardjo.

  13. Sekedar info saja :
    Satjipto Rahardjo adalah Guru Besar Emeritus Sosiologi Hukum Universitas Diponegoro Semarang

  14. Mas, di artikel itu beliau bicara : “dibutuhkan penegak hukum yg memiliki energi yang luar biasa u/ dpt ngatur & mengendalikan orang2 yg sudah pada singit”
    Kira2 apa ada ya…? jangan2 kita2 ini cuma menunggu godot.
    Atau mungkin orang2 yg diharapkan itu masih duduk di bangku TK..?

  15. Saya menangkapnya “TANGAN BESI” tapi bukan otoritarian .

    a.Orang yang tidak takut disingkirkan , karena berdiri dibalik Hukum .
    b.Orang yang tidak takut miskin , karena kebahagiaan bukan uang
    c.Orang yang tidak takut mati , karena kemenangan tidak harus hari ini.

    masih adakah orang-orang dengan konfigurasi kelengkapan seperti itu? Orang Indonesia saat ini paling takut no:2

  16. Na .. na .. na …
    Ini lagu sejak begitu pertama mendengar langsung kena banget.
    Eh … apa anak-anak muda pemusik sekarang bisa mengapresiasi lagu ini ya ?
    Nggak yakin banget.

    Salam,
    JS

  17. maksudnya bunga trotoar (swami)?

  18. Na .. na .. na yang di album Swami 2 Kuda Lumping yang dinyanyiin Jabo.
    Bunga Trotoar terlalu ngepop deh …

  19. September 2007 ada sebuah pidato , namanya juga….”pidato” .

    “Kita Bangsa Indonesia jangan jadi bangsa yang pesimis”

    lho.., ya dibuatkan cara yang bisa dilakukan dong..agar orang tidak dibenturkan pada tembok yang bisu.

    Berdoa tanpa kerja ,
    bekerja tanpa rencana ,
    “rencana” tapi orang lain yang memetik hasilnya .

    enteng lidah menelan ludah sendiri .

  20. Makanya kalau meludah jangan ke atas dong.

    Tapi saya setuju kalau kita harus tetap optimis. Sejarah menulis negeri ini pernah jaya. Saat inipun banyak anak-anak bangsa yang berprestasi,dan diperhitungkan. Sayangnya mereka justru lebih dihargai di luar sana. Di negeri sendiri mana ada yang peduli.

    Yang paling mudah adalah memulai dari diri sendiri saja. berani tidak kita tampil beda, mendobrak semua tatanan dan tradisi ngawur yang sempat tumbuh mengakar dimasyarakat kita. Hidup menjadi teladan, kemana generasi baru bisa bercermin.

    Saya tidak sedang beretorika. Kita memang jangan pernah melupakan sejarah, dan revolusi memang belum selesai. :)

    1. yang ngeludah keatas itu siapa mas..koq bego amat ya ..
    2. sejarah ngga dilupakan koq mas , cuman direvisi terus sesuai order .
    konon sekarang sudah masuk ver.3.0

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

elektronik sigara